Drama Musikal Cikeruhan Tampil Memukau di Hari Jadi Sumedang ke-448 dengan Nuansa Sakral
FAJARNUSANTARA.COM – Pertunjukan Drama Musikal Cikeruhan dari perwakilan Sumedang Barat membuka peringatan Hari Jadi Sumedang ke-448 dengan suasana khidmat. Tarian yang dibawakan Lingkung Seni Reak Putra Pewaris Desa Cikeruh bersama Sundawani DPC Jatinangor ini sukses mengubah riuh penonton menjadi hening dan penuh penghayatan.
Pertunjukan Drama Musikal Cikeruhan menjadi pembuka rangkaian acara peringatan Hari Jadi Sumedang ke-448. Penampilan ini digawangi oleh Uus Kuswendi dan Pendi Anjasmara, melibatkan Lingkung Seni Reak Putra Pewaris Desa Cikeruh serta Sundawani DPC Jatinangor sebagai perwakilan Sumedang Barat (PSBS Wilayah 1).
Sejak awal pertunjukan dimulai, suasana yang sebelumnya ramai mendadak berubah menjadi sunyi. Seluruh perhatian penonton terpusat pada panggung. Gerakan gemulai para penari menghadirkan nuansa sakral yang mendalam, membuat penonton larut dalam setiap alunan tari Cikeruhan.
Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol pelestarian budaya lokal. Seni Cikeruhan, yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda, ditampilkan dengan penuh penghayatan sebagai bagian dari identitas budaya Sumedang.
Uus Kuswendi menyatakan rasa syukurnya atas kesempatan tampil di momentum penting tersebut.
“Kami sangat bersyukur bisa tampil di acara Hari Jadi Sumedang ke-448. Ini menjadi kebanggaan bagi kami,” ujarnya. Jumat Malam Sabtu 25 April 2026.
Hal senada disampaikan Pendi Anjasmara. Ia menilai penampilan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal.
“Kami bangga bisa mempertontonkan Tari Cikeruhan dan Reak Putra Pewaris. Ini adalah kado bagi masyarakat Sumedang,” kata dia.
Menurut mereka, pengakuan terhadap seni Cikeruhan di tingkat nasional dan internasional menjadi motivasi untuk terus melestarikan budaya tersebut.
“Kami sangat bangga seni budaya Cikeruhan telah diakui dunia. Semoga ke depan bisa terus dilestarikan dan semakin sakral,” ujar Uus.**







