NasionalPendidikan

Tak Punya HP untuk Belajar Online, Siswa SMP di Lombok Pilih Menikah

FAJARNUSANTARA.COM, LOMBOK – Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Lombok, NTB, terpaksa menikah ditengah proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara online. Siswa itu, berinisial EB (15). EB menikah dengan kekasihnya, UD (17) pada 10 Oktober 2020 lalu.

Keputusan EB menerima pinangan UD yang kini sudah sah menjadi suaminya, lantaran bingung untuk mengisi kegiatan pada masa pandemi covid-19 ini. Pilihan menikah juga, diambilnya karena EB tidak memiliki handphone (HP) atau smartphone untuk proses belajar online.

Baca Juga :  Kang RinSo Dorong Percepetan Pemulihan Ekonomi Melalui Generasi Muda

Dari pengakuan EB, dirinya tinggal bersama neneknya dengan sederhana. Sebab, EB yang saat itu tercatat duduk di bangku kelas IV SMP, sudah ditinggal ayahnya yang telah dipanggil sang pencipta. Sehingga dikala ada ajakan menikah dari UD, remaja ini pun langsung menerimanya tanpa ada paksaan apapun dari pihak suaminya.

“Ya saya diajak menikah, karena bingung juga mau ngapain lagi. Saya juga menikah tidak ada paksaan, saya menerimanya dengan hati saya. Saya sudah tidak sekolah selama empat bulan, ditambah juga saya tidak punya handphone untuk belajar online,” tuturnya seperti dikutip dari Tribunnews.com, Senin (26/10).

Baca Juga :  Kang RinSo Dorong Percepetan Pemulihan Ekonomi Melalui Generasi Muda

Kendati kini sudah resmi menikah, EB mengaku masih ingin bersekolah. Dia juga sempat jujur, bahwa dirinya termasuk siswa yang malas belajar, namun berkeinginan untuk tetap menganyam jenjang pendidikan.  

“Tentu masih mau, tapi mau gimana lagi, kondisinya juga seperti ini. Walau saya seorang pemalas dan sering tidak masuk sekolah sebelum Covid-19, tapi saya mau sekolah lagi,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kang RinSo Dorong Percepetan Pemulihan Ekonomi Melalui Generasi Muda

Sementara itu, Kepala Dusun Kumbak Dalem, Abdul Hanan menjelaskan, terkait pernikahan EB dan UD, sengaja tidak dilaporkan ke pemerintah desa dan KUA setempat. Pihaknya malah khawatir, jika kedua remaja ini dipisahkan, akan menjadi masalah baru di desa.

“Kedua pasangan ini kan dibawah umur. Akhirnya kita nikahkan secara kekeluargaan saja, yang penting sah menurut agama,” jelasnya. (**)

Selengkapnya
Back to top button