Refleksi Hati Muhasabah Diri, PLN UP3 Sumedang Salurkan Bantuan untuk Anak Yatim, Dhuafa, dan Penyandang Disabilitas
FAJARNUSANTARA.COM- Menjelang pergantian tahun 2025, PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Sumedang bersama Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN menggelar acara pengajian dan doa akhir tahun bertajuk “Refleksi Hati Muhasabah Diri”.
Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Aula Prabu Geusan Ulun, Kantor PLN UP3 Sumedang, Jalan Prabu Gajah Agung No.8 Sumedang, PLN menyerahkan sejumlah bantuan sosial kepada 20 anak yatim, 63 dhuafa, penyandang disabilitas, dan pelaku usaha kecil.
Bantuan yang diberikan antara lain 63 paket sembako, santunan untuk 20 anak yatim, 3 unit kaki sambung palsu bagi penyandang disabilitas, serta 1 unit motor lengkap dengan gerobak usaha.
Ketua YBM PLN Sumedang, Irwan Paundra Sakti, menegaskan komitmen yayasan untuk terus memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“YBM PLN merupakan yayasan yang terpisah dari PLN, dikelola dari zakat 2,5% penghasilan pegawai muslim. Kami memiliki lima pilar program: Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Dakwah, dan Sosial Kemanusiaan. Sepanjang tahun 2024, kami telah menyalurkan bantuan kepada 2.568 penerima manfaat,” ujar Irwan.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menginformasikan individu atau keluarga yang sesuai kriteria delapan asnaf penerima zakat agar dapat diusulkan sebagai calon penerima manfaat.
Pada kesempatan yang sama, Ramdani Agustiyansah, Manager PLN UP3 Sumedang, menyampaikan harapannya agar bantuan ini menjadi keberkahan baik bagi para penerima maupun seluruh pegawai PLN.
“Kami terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik di bidang kelistrikan. Namun, kami sadar segala upaya yang dilakukan pada akhirnya harus dikembalikan kepada Yang Maha Kuasa. Doa, zakat, dan sedekah adalah kunci agar keberkahan itu datang,” tuturnya.
General Manager Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat, Agung Murdifi, menambahkan bahwa program YBM PLN bertujuan mendorong kemandirian para penerima manfaat.
“Kami ingin para penerima manfaat mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki hingga suatu saat dapat bertransformasi menjadi muzaki atau pemberi zakat. Tentunya, ini memerlukan pembinaan intensif dan tekad kuat dari masing-masing individu,” jelasnya.**







