Mujibno Siap Pimpin CIB, Usung Transformasi sebagai Rumah Kolaborasi Intelektual

Jakarta – Musyawarah Nasional (Munas) II Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) resmi menetapkan tiga calon Presiden untuk periode 2026–2027. Dari ketiga nama yang muncul—Mujibno, Rio Alfian Rosid, dan Nanda Asifa Putri—sosok Mujibno mulai mendapat sorotan sebagai kandidat kuat dengan gagasan transformasi organisasi yang komprehensif.
Munas II CIB sendiri akan berlangsung pada 23–26 April 2026 di Jakarta. Forum ini menjadi momentum penting, tidak hanya untuk memilih pemimpin baru, tetapi juga menentukan arah strategis organisasi ke depan dalam menjawab tantangan keilmuan dan pengabdian sosial.
Mujibno, Awardee Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) angkatan 2025, saat ini tengah menempuh studi doktoral di bidang Studi Islam. Selain aktif sebagai akademisi, ia juga merupakan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Al Amien Prenduan, Sumenep, Madura.
Dengan latar belakang akademik dan pengalaman organisasi yang kuat, Mujibno menawarkan visi besar: menjadikan CIB sebagai rumah kolaborasi intelektual yang partisipatif, berdampak, dan berkelanjutan.
“CIB harus melampaui fungsi administratif dan hadir sebagai ruang kontribusi nyata bagi bangsa,” tegas Mujibno dalam dokumen visi-misinya.
Visi tersebut diturunkan ke dalam sejumlah misi strategis, di antaranya penguatan karakter awardee yang berintegritas dan adaptif, pembangunan identitas CIB sebagai representasi intelektual muda, serta penguatan posisi organisasi sebagai mitra strategis pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil.
Ia juga menekankan pentingnya pembenahan tata kelola organisasi melalui standardisasi sistem, penguatan manajemen arsip, serta kaderisasi berkelanjutan yang terstruktur.
Dari sisi program kerja, Mujibno menawarkan berbagai inisiatif konkret, seperti: Kolaborasi karya ilmiah antar-awardee, Forum intelektual berskala nasional dan internasional, Penguatan jejaring global komunitas beasiswa, hingga program pengabdian masyarakat berbasis pengetahuan.
Menurutnya, CIB memiliki potensi besar untuk menjadi pusat gerakan intelektual muda yang tidak hanya produktif secara akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, dua kandidat lainnya, Rio Alfian Rosid dan Nanda Asifa Putri, juga menghadirkan gagasan masing-masing yang akan menjadi pertimbangan dalam proses pemilihan.
Panitia Munas II CIB mengajak seluruh anggota untuk mencermati visi, misi, dan program para kandidat melalui dokumen resmi yang telah dipublikasikan, guna memastikan proses demokrasi berjalan secara partisipatif dan berkualitas.
Munas II ini dinilai sebagai titik krusial bagi masa depan CIB. Sosok pemimpin yang terpilih nantinya diharapkan tidak hanya mampu menjaga idealisme organisasi, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan intelektual yang lebih terarah, kolaboratif, dan berdampak luas.
Di tengah dinamika tersebut, Mujibno hadir dengan tawaran arah baru—mendorong CIB menjadi lebih dari sekadar organisasi, tetapi sebagai ekosistem kolaborasi intelektual yang hidup dan relevan bagi kemajuan bangsa.







