Kegigihan Kiai: Resolusi Konflik Bertahun-tahun di Pesantren

Oleh: Muhammad Irfanudin Kurniawan
Earl Nightingale pernah berkata: “Never give up on a dream just because of the time it will take to accomplish it. The time will pass anyway.” Nelson Mandela menambahkan: “It always seems impossible until it’s done.” Dan James N. Watkins mengingatkan: “A river cuts through rock, not because of its power, but because of its persistence.”
Tiga kutipan ini berbicara tentang satu hal: kegigihan. Dalam konteks pesantren, kegigihan itu memiliki nama “Kiai”.
Konflik di pesantren tidak pernah selesai dalam semalam. Ia berlangsung lama, kadang bertahun-tahun, melibatkan banyak pihak, dan seringkali berakar pada persoalan struktural yang rumit.
Konflik antar-santri, antara santri dan pengurus, antara pengurus dan yayasan, atau antara pesantren dan masyarakat, semuanya membutuhkan proses yang panjang untuk diselesaikan.
Di sinilah peran Kiai menjadi sangat krusial. Kiai adalah pemimpin spiritual sekaligus manajer konflik yang harus memiliki kesabaran dan ketekunan luar biasa.
Sebuah penelitian di salah satu Pondok Pesantren di Jawa Timur, menunjukkan bahwa Kiai menerapkan prosedur sistematis dalam menyelesaikan konflik: pengenalan, diagnosis, kesepakatan solusi, implementasi, dan evaluasi yang dilakukan secara rutin.
Proses ini tidak instan. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi.
Seperti sungai yang memotong batu bukan karena kekuatannya, tapi karena ketekunannya, Kiai menjalankan perannya perlahan. Ia menggunakan kultur pesantren, pengabdian, pengkaderan, mujahadah, sebagai mekanisme sosial untuk meredam ketegangan.
Setiap ritual, setiap doa bersama, adalah pukulan kecil yang terus-menerus terhadap dinding konflik. Dan perlahan, konflik itu tergerus.
Tapi jalan ini tidak mudah. Kiai sering menghadapi resistensi dari pihak-pihak yang lebih nyaman dengan konflik.
Ada pengurus yayasan yang merasa otoritasnya terancam.
Ada kelompok santri yang tidak mau diajak berdamai.
Ada masyarakat yang membawa dendam lama. Di sinilah, kegigihan Kiai diuji.
Penelitian tentang peran Kiai dalam mediasi menunjukkan bahwa pendekatan Kiai memiliki keunggulan dibanding pengadilan.
Dalam mediasi Kiai, tidak ada pihak yang “terpaksa” kalah. Hasilnya cenderung win-win. Hubungan antar pihak tetap terjaga. Pelaksanaan putusan lebih ringan. Tapi semua itu tidak terjadi secara otomatis. Itu adalah hasil dari proses panjang yang ditempuh dengan kesabaran luar biasa.
Kutipan Nelson Mandela “It always seems impossible until it’s done” sangat relevan di sini. Bagi banyak orang, menyelesaikan konflik di pesantren tampak mustahil. Tapi bagi Kiai, tidak ada yang mustahil.
Ia percaya pada kekuatan musyawarah, pada nilai-nilai Islam tentang persaudaraan dan keadilan. Dan keyakinan itu, ditambah dengan ketekunan yang tidak kenal lelah, akhirnya membuahkan hasil.
Tantangan terbesar Kiai saat ini adalah menjaga kegigihan di tengah tekanan modernisasi. Pesantren berubah. Yayasan menuntut administrasi yang rapi. Pemerintah meminta laporan. Santri datang dengan latar belakang yang semakin beragam.
Di sini, konflik menjadi lebih rumit. Tapi Kiai tetaplah Kiai. Ia terus berjalan, perlahan tapi pasti, seperti sungai yang memotong batu.
Dari kegigihan Kiai ini, kita bisa belajar satu hal penting, bahwa resolusi konflik bukanlah peristiwa, melainkan proses.
Ia tidak selesai dalam satu pertemuan. Ia adalah kerja panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keyakinan bahwa pada akhirnya, sungai akan memotong batu.
—
Muhammad Irfanudin Kurniawan, adalah dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.






