Kang Haru : Lomba Baca Teks Proklamasi Merupakan Bentuk Penghayatan Perjuangan Kemerdekaan

Dalam rangka mendukung kegiatan Fraksi PKS DPR RI, DPW PKS Jawa Barat bekerjasama dengan Fraksi PKS DPRD Jawa Barat mengadakan lomba “Baca Teks Proklamasi Mirip Suara Soekarno 2021”.
Lomba ini terbuka bagi WNI dan boleh diikuti oleh peserta laki-laki maupun perempuan. Bahkan lomba ini juga diikuti oleh anak-anak, remaja, dan dewasa yang berpartisipasi dalam meramaikan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76.
“Acara ini dihelat dengan penuh antusias dari warga Jabar yang mengikutinya. Tidak kurang dari 126 orang berpartisipasi dengan mengirimkan video lomba,” kata Alimul Soekarno, ketua Bidang Humas DPW PKS Jawa Barat, seperti dalam rilis yang diterima Fajar Nusantara, Sabtu (14/8).
Ia menyebutkan, pemenang lomba ini ditentukan berdasarkan kategori yang sudah ditetapkan oleh panitia dan terpilih Aip Syaripudin dari Kabupaten Ciamis untuk mewakili Jawa Barat ke tingkat Nasional.
“Pengumuman ini dilaksanakan dengan daring via zoom meeting, peserta menghadiri dari tempat masing-masing,” tuturnya.
Puncak acara lomba ini adalah Orasi Kebangsaan dari Ketua DPW PKS Jawa Barat, DR. Haru Suandharu, S.Si., M.Si. Ia mengatakan dalam pidatonya bahwa Indonesia dengan usia 76 tahun jika diukur oleh usia manusia tentu sudah cukup lanjut. Tetapi jika diukur dengan usia sebuah negara boleh jadi masih sangat muda.
“Pandemi Covid-19 ini adalah ujian bagi kepemimpinan dari tingkat pusat sampai daerah, bahkan ujian juga bagi partai politik. Pandemi yang menyebabkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi ini tidak bisa diselesaikan dengan manajemen pencitraan, tidak bisa juga dengan manajemen sinetron. Krisis ini harus diselesaikan dengan sikap kepemimpinan yang mengedepankan kepeloporan dan keberanian untuk mengambil resiko,” Kata Haru dalam pidatonya.
Kang Haru, sapaan akrabnya, kemudian menyentil kepada politisi yang sudah melakukan ancang-ancang 2024, sebagaimana terlihat dijalan di setiap sudut kota saat ini mulai bermunculan baliho para elit politik.
“Ini ujian partai politik dan tokoh politik dalam memanfaatkan situasi pandemi ini. Kita dihadapkan pada pilihan apakah kita akan mengedepankan kepentingan pribadi, golongan atau kepentingan bangsa? Bahkan yang lebih pahit adalah apakah kita akan memilih menjadi pahlawan, penonton atau naudzubillah menjadi seorang pengkhianat?” Tanya Kang Haru dalam retorikanya secara live via zoom.
Menurutnya, lomba membaca teks proklamasi mirip Bung Karno adalah tahap awal dalam menghayati perjuangan para pemuda dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Mereka telah lulus ujian dengan memilih untuk menjadi pahlawan pelopor kemerdekaan.
“Semoga dengan membaca teks proklamasi ini kita mendapat pelajaran dari para pahlawan bangsa, selain kita mengingat para proklamator, kita pun harus mengingat orang-orang dibalik peristiwa itu terjadi. Karena dalam urusan publik tidak ada Superman yang ada adalah supertim, demikian dari dulu kala hingga hari ini dan kedepan,” katanya.
Dalam pidatonya, Kang Haru juga menutup dengan pantun seperti di bawah ini :
Sungguh indah bunga melati
Semerbak segarkan jiwa
Jadilah Pahlawan sejati
Pembela bangsa merdeka
Sekuntum mawar penawar hati
Tumbuh ditaman indah berseri
Jadilah Pemimpin sejati
Yang cinta rakyat dan negeri ini







