Bupati Sumedang Resmikan Pengolahan Sampah, Targetkan Tuntas dari Sumber
FAJARNUSANTARA.COM – Pemerintah Kabupaten Sumedang memperkuat komitmen penanganan sampah dengan meresmikan kawasan pengolahan sampah berteknologi N30 Turbocyclon (SIMPATI-1) di Pusat Pemerintahan Sumedang, Rabu, 15 April 2026.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, meresmikan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi N30 Turbocyclon sebagai upaya menuntaskan persoalan sampah dari hulu. Dalam peresmian itu, ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidaklah rumit jika dilakukan dengan konsisten sejak sumbernya.
“Pengelolaan sampah itu sederhana. Hanya butuh air bersih dan niat baik. Prinsipnya, sampah hari ini harus habis hari ini,” kata Dony dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, sistem yang diterapkan menitikberatkan pada pemilahan sejak awal antara sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan kaca memiliki nilai ekonomi, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos untuk kebutuhan pertanian.
“Sampah anorganik seperti plastik, kertas, kardus, botol, dan kaca memiliki nilai ekonomi dan dapat dijual. Sementara sampah organik diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi pertanian,” ujarnya.
Adapun sisa sampah atau residu yang tidak dapat dimanfaatkan akan diproses menggunakan insinerator dalam jumlah sangat kecil dan tetap sesuai regulasi lingkungan.
“Anorganik jadi uang, organik jadi pupuk. Sisanya yang benar-benar tidak terpakai baru dimasukkan ke insinerator. Ini adalah ikhtiar kita untuk menyelesaikan sampah dari hulunya,” kata dia.
Dony juga mendorong penerapan sistem pemilahan sampah secara luas, termasuk di sekolah dan seluruh organisasi perangkat daerah. Ia menargetkan setiap instansi memiliki fasilitas pemilahan sebagai bagian dari edukasi lingkungan berkelanjutan.
Sementara itu, perwakilan pengembang teknologi dari PT. New Energy Integrasi, Muhammad Budi Fauzi, menjelaskan mesin N30 Turbocyclon memiliki kapasitas awal 30 kilogram per jam dan dapat ditingkatkan hingga 100 kilogram per jam untuk sampah kering.
“Yang paling penting adalah proses pemilahan di awal. Sampah yang masih bernilai ekonomi dipisahkan, organik bisa dijadikan kompos, dan sisanya baru dibakar,” kata Budi.
Ia menambahkan, teknologi ini hanya menghasilkan residu sekitar 0,3 persen dan menggunakan air sebagai bahan utama operasional, sehingga biaya menjadi lebih efisien.
“Ini hasil pengembangan sejak 2012. Teknologi ini merupakan karya anak asli Sumedang,” ujarnya.**







