DaerahFeature

Mengenal Asal Usul Desa Sukamandijaya yang Dulunya Sebuah Perkebunan Besar

Terjadi Migrasi Besar-besaran Sejak Berdirinya Perusahaan dari Inggris

Setiap daerah pasti memiliki sejarah panjang. Apalagi yang dulunya merupakan wilayah perkebunan hingga kini banyak penduduk dan berdiri banyak perusahaan. Seperti halnya saja Desa Sukamandijaya Kecamatan Ciasem Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat. Berikut catatannya.

Remond, SUBANG

Desa Sukamandijaya yang berada di Kecamatan Ciasem ini memiliki tempat strategis karena dilintasi Jalur Pantura. Selain itu, Sukamandijaya juga menjadi ‘pusat pemerintahan’ dari Kecamatan Ciasem.

Dimana terdapat beberapa kantor pelayanan masyarakat, pasar tradisional, berbagai ritel mini market serta lahan persawahan. Dan bahkan terdapat perusahaan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mempunyai bisnis inti perbenihan pertanian.

Namun begitu, keberadaan Desa Sukamandijaya ini memiliki sejarah panjang. Dimana pada Tahun 1940, kawasan ini, hanya lah sebuah perkebunan besar. Perkebunan ini, milik Nini Siti Aminah (Ma Iti) yang kala itu menikah dengan bos dari sebuah perusahaan swasta Inggris yang bernama P&T atau kepanjangan dari Pamanoekan en Tjiasemlands.

Saat itu, jumlah penduduk pun masih terbilang sedikit. Ada pun, merupakan migrasi penduduk yang berasal dari Cirebon, Tegal, Brebes dan Pekalongan. Mereka itu datangnya Sukamandi, dan hanya untuk menjadi buruh/tani di perusahaan itu,” kata tokoh masyarakat Desa Sukamandijaya, Rudi Hartono kepada Fajarnusantara.com, Jumat (20/11).

Seiring berjalannya waktu, di wilayah yang saat itu banyak lahan kosong, berdiri juga sebuah pabrik pengolahan singkong atau gaplek yang menjadi tepung tapioka. Dan saat ini perusahaan itu menjadi areal PT Sang Hyang Seri.

Kemudan, lanjut Rudi, pada Tahun 1957, terjadi Nasionalisasi. Sehingga perusahaan ini, kala itu dikelola Yayasan Pembangunan Djawa Barat (YPDB). Dan selanjutnya Tahun 1966, menjadi proyek produksi pangan bersamaan dengan dibentuknya proyek penelitian dan mekanisasi serta proyek Perhewani.

“Selang beberapa tahuh, kurang lebih pada Tahun 1968, ketiga proyek ini dilebur menjadi satu. Yaitu menjadi Lembaga Sang Hyang Seri. Setelah itu ada kunjungan Presiden Suharto ke Sukamandi pata Tahun 1970 untuk memulai pembangunan di wilayah ini. Diantaranya pembangunan saluran irigasi, sawah dan pemukiman penduduk,” tutur Rudi yang juga cucu dari M.Pai Jabar, Lurah pertama di Desa Sukamandijaya.

Salahsatu aktivitas warga di Desa Sukamandijaya (foto: istimewa)

Rudi melanjutkan, pada Tahun 1971, lembaga Sang Hyang Seri ini, pun menjadi Perum Sang Hyang Seri dan dibangunnya juga Lembaga Pusat Penelitian Pertanian ( LP3) pada Tahun 1972 yang sekarang menjadi BBPadi.

Dan untuk mengawal jalannya pembangunan di Sukamandi, kala itu didatangkan beberapa personel dari TNI. Diantaranya pasukan Artileri Medan (Armed) dari Cimahi, Bandung yang ditempatkan di sebelah barat pasar yang  sekarang menjadi areal Kantor Bank bjb (Samsat).

“Untuk membangun infrastruktur antara lain perbaikan jalan, pembangunan saluran irigasi dan bendungan Kali Cijengkol mendatangkan personel Tentara Zeni dari Jakarta yang ditempatkan diareal Megatani Kampung Wesel Ujung dan juga penambahan anggota Polri yang masih remaja atau yang baru selesai pendidikan di Bandung,” sebut Rudi di kediamannya yang berada di Dusun Rawasari RT 13 RW 07 Desa Sukamandijaya.

Setelah itu, tambahnya, terjadi migrasi penduduk secara besar-besaran. Pada waktu itu, pabrik di zaman P&T mulai beroperasi. Maka bedeng bedeng pun dipenuhi oleh orang-orang pendatang yang bekerja di pabrik. Seperti bedeng pangungsen, sidodadi, lamaran dan binong.

“Disamping itu juga, los-los pasar dipenuhi oleh pendatang yang sekedar menyambung hidup dengan tinggal dan menetap disitu. Sehingga keadaannya sangat kumuh pada waktu itu. Setelah adanya pembangunan, maka orang-orang yang mendiami bedeng tetapi sudah dibesine/PHK, mereka dipindahkan. Untuk yang di bedeng dan sidodadi, dipindahkan ke belakang kecamatan dan di samping BBPadi yang sekarang menjadi Margamulya dan Margajaya dengan diberi lahan tanah seluas tiga are. Untuk yang di daerah lamaran, lokasinya di belakang pabrik sekarang menjadi margasari dengan diberi tanah 3,5 are (350 meter persegi). Untuk yang di Bedeng Binong Lamaran dipindahkan yang sekarang menjadi Mulyasari. Dan untuk tuna wisma yang berada di pasar mendapatkan bagian tanah yang sekarang menja di Ampera (di Margaluyu) dengan luas tanah 4 are,” jelasnya.

“Demikian berjalannya pembangunan yang ada di Sukamandi yang tidak terlepas dari peran serta pemerintah beserta jajarannya.  Keberhasilan Sukamandi dalam pembangunan terutama di bidang pertanian cukup menggembirakan dan pada akhirnya Tahun 1983, Presiden Suharto kembali berkunjung ke Sukamandi untuk panen raya,” tambahnya.

Rudi kembali menceritakan, bahwa berdasarkan keputusan pemerintah pusat, dibeli lah saham yang dimiliki oleh Inggris kala itu. Dengan begitu, status Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan IV itu pun, 100 persen menjadi milik Bangsa Indonesia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan serta faktor-faktor lainnya.

Dan dari perjalanan sejarah perkebunan itu, perusahaan perkebunan ini mengalami peralihan-peralihan. Pada Tahun 1812-1839 berada ditangan bangsa Inggris, Tahun 1840-1910 berada ditangan bangsa Belanda, Tahun 1911-1942 berada ditangan bangsa Inggris lagi kemudian Tahun 1942-1945 berada dibawah pemerintah Jepang, Tahun 1945-1948 berada dibawah Pemerintahan Indonesia.

Namun tak lama, pada Tahun 1949-1963 berada ditangan bangsa Inggris lagi. Selanjutya kembali kepada Indonesia pada Tahun 1964-1969. Kemudian Tahun 1970 tepatnya 1 Januari sudah berbentuk Joint Ventur.

Kondisi bangunan sebelum Kemerdekaan RI di Desa Sukamandijaya.

“Dari Tahun 1970-1972 sejak tanggal 20 Juli 1970, status Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Dwikora IV adalah menjadi milik Negara Indonesia. Tahun 1972-1973, saat itu dikelola oleh PPS (Perusahaan Perkebunan Subang). Tahun 1973-1979 tepatnya mulai tanggal 1 Maret 1973 sampai dengan tanggal 28 Februari 1971. Tahun 1979 mulai tanggal 1 Maret 1979 PT Perkebunan XXX dibubarkan dan dilimpahkan kepada PT Perkebunan XII, PT Perkebunan XIII, PT Perkebunan XIV. Dan pada tanggal 11 Maret 1996, di Subang terdiri dari tiga PTP, yaitu PTP XI, PTP XII dan PTP XIII,” tuturnya.

Disamping itu, Rudi juga menceritakan asal usul nama Sukamandi.  Dari ulasan ceritanya, bahwa pada zaman P&T, ada bedeng bedeng untuk suplay air yang dibuat P&T yang saat itu disebut Blok Balong/Balong Gunung. Airnya dialirkan ke areal pabrik menjadi air bersih/boser. Maka di daerah ini sangat banyak air di setiap gang masuk keran-keran air pun sangat jernih bahkan ada beberapa kamar mandi bersama yang ukuran besar di areal bedeng. Di sisi jalan pasar, pun terdapat sumur air yang dinamakan jumblengan. Dan kala itu, bagi warga yang sedang dalam perjalanan dapat singgah sejenak untuk menumpang mandi. Dan karena banyak yang seing mandri, banyak orang menyebutnya dengan sebutan Sukamandi.

“Ini sekilas tentang Sejarah Sukamandi. Sekedar kenangan dan motifasi saya kepada kakek saya M.Pai Jabar Lurah Pertama di Desa Sukamandijaya dan untuk memberitahukan kepada generasi selanjutnya, betapa pentingnya sejarah di masa lalu,” tutupnya. (**)

Selengkapnya
Back to top button