FAJARNUSANTARA.COM, BANTEN – 41 rumah rusak hingga roboh akibat tanah bergerak di Kampung Jampang Cikoneng, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Bahkan ada 115 kepala keluarga (KK) yang terdampak bencana itu. Sebanyak 41 rumah mengalami kerusakan hingga roboh akibat tanah bergerak.
Tanah bergerak ini merupakan yang kedua kalinya terjadi. Yang pertama pada tahun 2019 lalu, yang mengakibatkan sejumlah rumah rusak.
Ketua RT setempat, Ubay mengatakan, tanah bergerak itu mulai terjadi pada Desember 2020 lalu. Saat itu, terjadi hujan turun selama berhari-hari.
“Satu sampai dua rumah retak, lalu ada yang roboh pada awalnya. Hingga kini ada 41 rumah rusak, 3 rumah sudah roboh karena tanahnya bergeser. Setiap setelah hujan pasti ada laporan rumah retak, bahkan roboh,” katanya, Senin (1/2/2021) seperti dikutip dari Kompas.com.
Di tahun 2019 lalu, sebagian warga direlokasi dengan bantuan pemerintah ke tempat yang dirasa cukup aman. Sejak saat itu tersisa sekitar 50 KK yang sebelumnya tidak terdampak. Sisa KK itu enggan untuk meninggalkan rumah, lantaran tidak punya biaya untuk membangun rumah di lokasi yang lebih aman.
Karena terjadi lagi pergerakan tanah, 50 KK itu kini menjadi warga terdampak. Salahsatunya rumah Ening (60), roboh pada pertengahan Januari 2021 kemarin.
“Awalnya hanya retak biasa, masih bertahan di sini karena masih layak. Semakin hari makin parah, rumah miring lalu roboh saat hujan minggu lalu,” kata Ening.
Saat ini, dirinya pun terpaksa mengungsi ke rumah anaknya yang berada di sebelah. Namun dirinya pun khawatir rumah anaknya itu akan bernasib serupa dengan rumahnya karena sudah muncul retakan.
Ening dan keluarganya, mengaku tidak tidur nyenyak saat malam hari karena khawatir rumahnya roboh. Sekarang juga, barang-barang penting sudah dikemasi, sehingga bisa lekas menyelamatkan diri saat terjadi keadaan darurat.
Terkait kondisi ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Febby Rizky Pratama menyebutkan, pihaknya sudah melakukan pendataan warga yang terdampak pergerakan tanah. BPBD juga, katanya, masih menunggu kebijakan Bupati mengenai langkah apa yang akan dilakukan.
“Sambil menunggu, kita akan lakukan musyawarah dengan masyarakat untuk menentukan pilihan terbaik. Apa itu akan seperti yang dahulu melakukan relokasi mandiri atau seperti apa,” katanya seranya menyatakan dalam waktu dekat BPBD akan membangun posko sementara untuk pengungsi. (**)