Artikel

Pentingnya Soliditas ‘Guyub Ngahiji’ Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat Dalam Menghadapi Muktamar XVII di Kaltim

Sungguh tidak terasa, hanya hitungan hari  kurang dari 1 bulan ini tepatnya pada tanggal 21-24 Februari 2024, Pemuda Muhammadiyah telah siap menggelar agenda Muktamar yang ke XVII di Balikpapan, Kalimantan Timur

Potensi Wilayah Jawa Barat
Provinsi Jawa Barat merupakan  provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), penduduk Tanah Pasundan mencapai 48,64 juta jiwa pada Juni 2022. Porsi jumlah ini melampaui 17% dari total penduduk Indonesia.

Secara administratif sejak tahun 2008, kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat berjumlah 26 kabupaten/kota terdiri atas 17 kabupaten dan 9 kota dengan 625 kecamatan dan 5.877 desa/kelurahan. Ini artinya wilayah tanah pasundan tidak akan pernah kehabisan setiap penduduknya yang memiliki potensi luar bisa yang patut dibanggakan dari tiap-tiap daerahnya tersebut.

Indikator diatas merupakan pertanda bahwa Pemuda Muhammadiyah yang tersebar di 26 Kabupaten/Kota tersebut sudah layak menjadi sebuah organisasi otonom Persyarikatan Muhammadiyah yang kuat, tangguh, solid dan memiliki integritas.

Dengan sumber daya yang dimiliki, baik SDM maupun SDA sudah seharusnya terbangun sebuah kemandirian yang purna dan berdikari, berdiri diatas kaki sendiri.

Musywil Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat 2019 & Hasil Konsensusnya?
Pada Musywil Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat Desember 2019 lalu. Telah terjadi sebuah konsensus yang menentukan 11 formatur dengan satu diantaranya menjadi sosok Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Reza Arfah.

‘Setiap zaman ada tokohnya, setiap tokoh ada zamannya’. Sebuah analogi yang cocok diterapkan dimana saja.  Begitupun di Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, kini sosok ‘ketua pimpinan’ itu tersemat pada seorang Reza Arfah yang menjadi nakhkoda hingga 2023 ini.

Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat yang memiliki nilai tawar dan nilai strategis yang sangat kompetitif perlu diposisikan pada suatu tempat yang patut diperhitungkan dalam setiap kancah politik.

Perlunya Idealisme Yang Logis Dalam Menentukan Sosok Pemimpin Maupun Kepemimpinan
Dalam pandangan saya, setiap kontestasi yang senantiasa dihadapkan pada suatu sistem pemilihan, apapun itu aplikasinya,faktanya yang terpenting adalah siapa sosoknya, apa latar belakangnya dan sepak terjangnya dalam mengaktualisasikan orientasi karakternya dalam setiap aktivitas.

Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memim. Kepemimpinan merupakan gaya dan karakter seorang pemimpin dalam memimpin. Pemimpin bukan hanya tentang jabatan, pemimpin adalah tentang kemampuan seseorang dalam memimpin dan mempengaruhi. Suradinata (1997:11) berpendapat bahwa pemimpin adalah orang yang memimpin kelompok dua orang atau lebih, baik organisasi maupun keluarga.

Sedangkan kepemimpinan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi fikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Aristoteles menjelaskan bahwa kepemimpinan menurutnya  lebih kepada pengendalian diri, sikap, dan pikir yang biasanya ditemukan pada orang-orang yang tercerahkan.

Dari uraian diatas itulah saya yang secara pribadi bisa memberikan suatu analisa yang bersandar pada arti pemimpin dan kepemimpinan. Seorang Reza Arfah telah mampu mengaktualisasikan perannya sebagai pemimpin yang memiliki unsur-unsur diatas.

Lalu Apa Peran Bagian Dari Organ Yang Dipimpinnya?
Sebagai bagian dari suatu struktur yang dipimpin, maka siapapun itu, ia memiliki kewahiban untuk menjadi satu jaringan yang mengakar dalam suatu wadah tertentu, jika wadah itu adalah Pemuda Muhammadiyah maka tentu mereka harus sejalan dan sepemahaman dalam menjalankan roda organisasi berdasarkan aturan yang telah dibuat baik secara mufakat yang mengikat secara umum, maupun sektoral.

Apabila kita dihadapkan pada suatu kondisi dimana kita harus menentukan seorang sosok. Maka salahsatu indikator yang perlu menjadi sebuah pertimbangan utamanya adalah bahwa ia merupakan ‘bagian’ dari kita. Qona’ah dalam menentukan sosok. ‘Yang terdekat yang kita pilih, yang terdekat yang dorong.’ Istilah qona’ah dalam sebuah organisasi.

Mengapa Harus Dia?
Lalu, jika timbul sebuah pertanyaan ‘mengapa harus dia, bukan si itu?’ ini merupakan hasil dari sebuah pemikiran yang lumrah dan sah. Namun demikian, satuhal yang perlu kita tanyakan kembali dan gali bersama ialah hasil dari sebuah pemikiran itu sendiri, adalah sebuah jawaban yang lumrah dan sah pula yaitu karena dia bagian dari kita. Dan karena dia merupakan sosok yang layak diantara kita. Dengan nilai substansinya adalah mendorong seorang sosok yang dilandasi dengan sebuah kesepahaman berdasarkan dari hasil yang mufakat akan menghasilkan energi yang solid dan tidak bisa terpecahkan.

Buang Sikap Hipokrit
Menurut Mochtar Lubis, ciri pertama manusia Indonesia adalah hipokrit atau munafik . Manusia Indonesia terbiasa untuk berpura-pura, lain di muka lain di belakang dan hal ini sudah berlangsung sejak dahulu.

Penyebabnya bisa jadi karena sejak dulu, manusia Indonesia terbiasa dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya, dipikirkannya, atau dikehendakinya karena takut akan ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya. Mochtar Lubis menyebut salah satu buktinya adalah prinsip Asal Bapak Senang (ABS) yang sering dilakukan oleh manusia Indonesia.

Sikap hipokrit ini sungguh sangat berbahaya, tercatat dalam sejarah bagi sosok maupun kaum yang hipokrit dapat berimbas pada rusaknya sebuah peradaban.

Sama halnya dalam sebuah organisasi, jika sifat ini diadopsi secara massif maka akan menimbulkan sebuah petaka perpecahan, mudah diadu domba dan lemah. Orientasi menuju sebuah kemenangan itu bisa terganggu bahkan bisa gagal jika sifat ini terorganisir menjadi sebuah kelompok yang berkekuatan besar, tidak hanya berjalan secara individu. Dan tentunya, sifat ini sangat sulit untuk diidentifikasi.

Namun, salahsatu ciri utamanya yang dapat kita bisa lihat adalah ketika menampilkan sikap oportunis yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Dalam hal ini, saya berpendapat perlunya kita dalam suatu organisasi untuk memperhatikan dengan betul setiap keputusan yang kolektif sehingga kita terhindar dari sikap diatas. Karena menentukan suatu keputusan sendiri padahal ia sudah mendapatkan suatu instruksi yang kolektif maka jurang perpecahan itu akan semakin menganga.

Penutup
Untuk itu, mari kita rapatkan barisan bersatu dalam satu langkah dan irama yang sama. Keegoan dan kepentingan yang hanya mengakomodir kepentingan segelintir orang hanya akan membuka pintu bagi yang untuk bisa melihat bahwa kita rapuh, mudah dipecah.

Mari kita berpegangan tangan bersama dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki untuk disenyawakan dalam cita-cita besar bahwa Jawa Barat saatnya memimpin. Bahwa Jawa Barat saatnya menjadi ‘tuan’ bukan hanya pembeo bagi oranglain yang belum tentu berorientasi pada nilai-nilai kearifan lokal Jawa Barat.

Kalahpun tak jadi masalah, jika langkah kita sudah searah sejak awal menentukan arah. Tampil elegan, berjiwa besar dan tahan terhadap hempasan badai sesaat adalah kemenangan sejati yang tercatat dalam sejarah perhelatan ‘akbar’.

Mendukung putra terbaik seorang Reza Arfah adalah sebuah catatan penting bagi seorang saya yang dulu mungkin memiliki sejarah antipati terhadap sosoknya. Kini, empati itu hadir karena sosok yang ditampilkannya cukup menarik untuk menjadi sebuah stereotip dalam kepemimpinan. Senin 6 Pebruari 2023

Penulis: Adang Budaya, S.Sy.,M.H
Wasekbid Hukum, HAM dan Advokasi PWPM Jawa Barat

Dodi Partawijaya

Dodi Partawijaya aktif sebagai seorang jurnalis dimulai sejak berdirinya Fajar Nusantara. Selain aktif di dunia jurnalis, Dodi juga aktif di ormas kepemudaan Islam dan juga berbagai organisasi lainnya. Jaringannya yang luas, membuatnya mampu berkontribusi untuk memberika ide dan gagasan melalui tulisan di Fajar Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button