Ketua Umum PUI Ajak Umat Jadikan Muharram 1448 H Momentum Hijrah Nyata
FAJARNUSANTARA.COM – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ummat Islam (PUI), H. Raizal Arifin, S.Sos., M.Sos., mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai momentum perubahan nyata, bukan sekadar peringatan pergantian kalender. Menurutnya, semangat hijrah Rasulullah SAW harus diterjemahkan menjadi upaya memperbaiki diri, memperkuat keluarga, dan membangun umat agar mampu menjawab tantangan zaman.
Dalam refleksinya menyambut Muharram 1448 H, Raizal menilai masyarakat saat ini menghadapi berbagai persoalan sosial yang membutuhkan transformasi karakter dan kolaborasi seluruh elemen bangsa. Selasa 16 Juni 2027.
“Muharram bukan sekadar pergantian tahun. Muharram adalah panggilan untuk berubah, dari diri yang lemah menjadi kuat, dari keluarga yang rapuh menjadi kokoh, dan dari umat yang terpecah menjadi kekuatan yang menghadirkan solusi,” kata Raizal Arifin.
Ia mengatakan, hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perubahan besar yang mengantarkan umat menuju peradaban yang lebih maju dan berdaya.
Menurut Raizal, tantangan umat Islam saat ini tidak lagi sebatas persoalan ekonomi, tetapi juga krisis moral dan karakter. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat justru dihadapkan pada maraknya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, judi online, penyalahgunaan narkoba, hingga praktik korupsi yang terus berulang.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya hijrah dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari perubahan sikap dan mentalitas.
“Hijrah pertama yang paling mendesak adalah hijrah dari dalam diri, dari malas menjadi produktif, dari pesimis menjadi optimistis, dan dari tukang kritik menjadi pemberi solusi,” ujarnya.
Raizal juga menyoroti kondisi keluarga Indonesia yang dinilai menghadapi tantangan serius. Ia menyebut tingginya angka perceraian dan menurunnya kualitas komunikasi dalam keluarga menjadi ancaman terhadap pembentukan karakter generasi muda.
Menurutnya, keluarga harus kembali menjadi pusat pendidikan nilai-nilai keimanan, akhlak, tanggung jawab, dan cinta tanah air. Rumah, kata dia, merupakan madrasah pertama yang menentukan kualitas bangsa di masa depan.
Selain itu, ia menilai Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Keberadaan masjid, pesantren, dan organisasi Islam yang tersebar luas seharusnya mampu menjadi kekuatan sosial untuk mendorong kemajuan bangsa.
Namun, ia mengingatkan potensi tersebut belum sepenuhnya terorganisasi dengan baik karena masih adanya ketimpangan pendidikan, kesenjangan ekonomi, dan budaya saling berdebat dibandingkan bekerja sama.
Dalam momentum Muharram 1448 H, PUI mengajak masyarakat menjalankan tiga langkah utama, yakni memperbaiki kualitas diri, memperkuat ketahanan keluarga, dan membangun umat melalui pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, serta pelayanan sosial.
“Indonesia yang maju, berkeadilan, dan berakhlak dibangun oleh umat yang mau berbenah mulai dari diri sendiri. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” kata Raizal.
Ia berharap semangat hijrah tidak berhenti sebagai seremonial tahunan, melainkan menjadi gerakan bersama untuk menghadirkan perubahan positif di tengah masyarakat dan memperkuat kontribusi umat Islam dalam pembangunan bangsa.**







