Pendidikan

Dirjen Kebudayaan: Kembangkan Warisan Budaya dengan Riset dan Teknologi

FAJARNUSANTARA.COM, JAKARTA – Dimasa pandemi ini, kebudayaan memegang peran penting dalam membentuk kenormalan baru atau new normal. Sebab, kebudayaan bisa menjadi sumber. Seperti disampaikan Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid.

“Kita punya banyak warisan budaya, kekayaan intelektual yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ini adalah sumber daya yang luar biasa,” ujarnya saat menjadi pembina Apel Pagi Kemendikbudristek yang digelar secara virtual, Senin (16/8/2021), seperti melansir dari laman resmi Kemendikbud.

Menurutnya, warisan budaya dan kekayaan intelektual, dapat dikembangkan dengan dukungan riset dan teknologi. Dia mencontohkan, salahsatu warisan budaya yang akrab dengan masyarakat, yaitu jamu atau dikenal juga dengan sebutan empon-empon.

Baca Juga :  Keraton Sumedang Larang, Jamas Ribuan Pusaka Kerajaan Di Bulan Mulud

Jamu, kata dia, berguna untuk meningkatkan imunitas tubuh. Sehingga lanjut Hilmar, berbeda dengan obat yang memerangi penyakit. Menurutnya, jamu dapat berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tahan terhadap penyakit.

“Jadi bukan pengobatan, tapi pencegahan. Jadi pesan yang diberikan leluhur kita kepada kita adalah jangan tunggu sakit kemudian berobat dengan biaya besar, tapi cegah penyakitnya dengan mudah dan murah,” tuturnya.

Dikatakannya, Indonesia merupakan negeri yang diberi kekayaan alam dan kekayaan budaya. Para ahli, lanjutnya, menyebut bahwa Indonesia sebagai negeri mega-diversity, karena memiliki keanekaragaman yang luar biasa. Baik itu alam maupun budayanya. Jamu yang dicontohkannya, hanya sebagian kecil dari keanekaragaman warisan budaya Indonesia. Termasuk untuk resep jamu, merupakan kekayaan intelektual yang diwarisi dari generasi ke generasi.

Baca Juga :  Keraton Sumedang Larang, Jamas Ribuan Pusaka Kerajaan Di Bulan Mulud

“Potensi luar biasa inilah yang harus kita kembangkan. Buang jauh-jauh kesan bahwa ini barang kuno dari masa lalu yang tidak lagi relevan dengan kehidupan sekarang,” katanya.

Warisan budaya lain yang terkait dengan kesehatan dan bisa dikembangkan dengan riset dan teknologi adalah Kerokan, yaitu metode pengobatan tradisional untuk masuk angin. Hilmar mengatakan, metode kerokan mirip dengan teknik memijat yang populer di Amerika dan Eropa sejak beberapa tahun lalu, yaitu Graston Technique. Graston merupakan teknik memijat yang menggunakan alat khusus dan menjadikan bagian tubuh yang dipijat menjadi kemerahan.

Baca Juga :  Keraton Sumedang Larang, Jamas Ribuan Pusaka Kerajaan Di Bulan Mulud

“Beberapa tahun lalu musisi Justin Bieber sempat ramai memperkenalkan teknik dan alat yang dipakai. Nama alatnya keren, Graston. Sudah dipatenkan, ada alatnya, ada teknik pijatnya, bahkan sudah ada orang yang ahi di bidang itu. Teknik yang sama sudah kita kenal selama puluhan tahun tapi tidak pernah kita patenkan. Alatnya sederhana, cukup mata uang koin yang besar dan tebal. Namanya juga keren, Kerokan. Dan sudah ada terjemahannya dalam bahasa Inggris: scraping,” tutur Hilmar. (**)

Selengkapnya
Back to top button