Bantuan Ternak Dialihkan, Sutrisno Ngadu ke Kementan dan Bupati Sumedang

FAJARNUSANTARA.COM, SUMEDANG – Anggota Komisi IV DPR RI, Sutrisno mendapingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melaksanakan kunjungan kerja ke Kelompok Tani Mukti di Desa Sukawangi, Kecamatan Pamulihan, menyaksikan panen komiditi cabai. Sabtu (02/07).
Saat memberikan sambutan, mantan Bupati Majalengka itu, menyebutkan ada beberapa persoalan di Kabupaten Sumedang yakni bantuan Sapi dari Kementerian Pertanian (Kementan) bagi Poktan Marga Mukti II Desa Cilopang
Kecamatan Cisitu Kabupaten Sumedang yang dialihkan.
“Entah apa alasannya, bantua ternak diberikan kepada satu kelompok, legalitasnya diberikan kesana, ada tanda terima barang, dan pada hari Sabtu saya memberitahukan pada staf Bupati agar bantuan itu jangan diambil dan jangan dipindahkan karena legalitasnya barang aset negara tidak boleh dipindah pindahkan,” ucap Sutrisno.
Namun setelah selesai tugas, hari Selasa ada laporan barang bantuan diambil yang menamakan Masyarakat Adat padahal bantuan ini untuk kelompok, untuk bisa mengembangkan aturan yang ada Insfektorat, BPK, APH legalitas yang menjadi pegangan.
“Bantuan tersebut untuk daerah Cilopang, yang mana daerah tersebut termasuk wilayah terisolir dan tempat itu cocok, dan saya mendapatkan informasi lokasinya dipindahkan ke Tanjungkerta,” katanya.
Sutrisno mengingatkan, daripada dikemudian hari mendapatkan persoalan, mohon secepatnya itu dikembalikan, sebagai kewajiban sebagai wakil rakyat wajib untuk menyampaikannya.
Sutrisno menjelaskan, sebagai negara subur, tidak bakal kekurangan pangan, namun sekarang melah sebaliknya, harga kebutuhan pokok malah naik.
“Saya selalu mencari persolan bertanya kenapa ini bisa terjadi, sepertinya managemennya perlu diperlu diperbaiki,
Karena Pak Menteri ini, jika satu daerah kurang pasti di support, walaupun ini daerah otonom, pasti disupport dan Komisi IV DPR RI pasti mempertimbangkannya,” ucapnya.
Menurut ia, perkembangan harga cabai tidak terkendali, dirinya berpendapat bahwa petani didorong untuk memproduksi pangan, namun untuk menjual petani tidak tahu, sehingga perencanaan produksi tidak jelas dan pasti akan kelebihan produksi.
“Dari 260 hektar lahan cabai manakala tidak didekatkan dengan pasarnya, dipastikan kedepannya akan terjadi penurunan harga ini yang perlu dijaga,” ucapnya. (ESH).







