Wakil Bupati Sumedang Dorong Sinergi Akademisi dan Petani Kembangkan Tembakau
FAJARNUSANTARA.COM- Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldila, mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas petani untuk memperkuat budidaya tembakau sebagai komoditas unggulan di Kabupaten Sumedang. Hal itu disampaikan saat menghadiri kegiatan budidaya tembakau bersama Universitas Winaya Mukti (Unwim), di Tanjungsari, Selasa 1 Juli 2025.
Fajar menyampaikan bahwa tembakau memiliki kontribusi besar terhadap pendapatan daerah, khususnya dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Ia meminta seluruh pihak, termasuk dinas pertanian, untuk lebih proaktif menyampaikan informasi kepada petani dan memastikan distribusi program berjalan merata.
-
APDESI Sumedang Perkuat Sinergi Desa Lewat Halal Bihalal1 minggu Lalu
-
Hari Jadi Sumedang ke 448 Gelar Trofeo Mini Soccer3 minggu Lalu
“Angka bagi hasil cukai tembakau itu tidak kecil. Sayangnya, kadang terjadi miskomunikasi atau miskadministrasi, sehingga petani tidak mendapat informasi cukup. Ini harus dibenahi,” ujar Fajar dalam sambutannya.
Ia juga menyoroti pentingnya sentuhan kebijakan kepada kelompok tani di wilayah pinggiran, bukan hanya di pusat kota.
“Saya bilang ke Dinas Pertanian, jangan pilih kasih. Gapoktan di daerah ujung pun harus disentuh. Tanah Sumedang ini subur, luas lahan kita lebih dari 2.500 hektare, tersebar di 25 kecamatan,” katanya.
Menurut Fajar, Sumedang memiliki potensi besar dalam komoditas tembakau yang perlu dioptimalkan. Ia bahkan menyebutkan bahwa Tanjungsari telah memiliki pasar tembakau yang menjadi satu-satunya di Jawa Barat, bahkan di Indonesia.
“Pasar tembakau di Tanjungsari itu aset penting. Kita harus jadikan ini sebagai pusat distribusi dan nilai tambah ekonomi bagi petani tembakau,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor 3 Universitas Winaya Mukti, Dr. Ir. Elly Roosma Ria, MP., menyambut baik kolaborasi dengan para petani dalam kegiatan budidaya tembakau. Ia menyebut kegiatan ini sebagai jembatan nyata antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan.
“Pengetahuan itu tidak hanya dari bangku sekolah. Kami juga belajar dari para petani. Inilah yang kami sebut ‘Windows Show of Season’—kami ingin setiap tahun ada penanaman tembakau bersama sebagai bentuk dedikasi akademisi untuk pertanian Indonesia,” kata Elly.
Ia menambahkan, komoditas pertanian, termasuk tembakau, adalah salah satu alasan mengapa Indonesia menjadi negara yang kaya dan bahkan pernah dijajah.
“Kenapa Belanda tertarik pada Indonesia? Karena produk pertaniannya. Ini yang harus kita sadari. Apa pun yang kita tanam di sini bisa tumbuh. Ini bukti Indonesia sebagai negara agraris yang patut dibanggakan,” ujarnya.
Wakil Bupati Fajar juga menyinggung isu rokok ilegal yang masih marak beredar dan berpotensi merugikan pendapatan negara dari cukai. Ia meminta seluruh pihak terkait memperkuat pengawasan di lapangan.
“Kemarin kami diskusi dengan Kapolres dan pihak kejaksaan. Temuan rokok ilegal makin banyak. Ini harus jadi perhatian bersama, jangan sampai merusak tata niaga dan merugikan petani yang patuh,” tegas Fajar.
Kegiatan ini diakhiri dengan penanaman tembakau secara simbolis dan dialog bersama petani, akademisi, serta pemerintah daerah, sebagai langkah awal memperkuat sinergi pertanian berbasis komunitas di Sumedang.**







