Pengurangan Jumlah Produksi, Solusi Mengatasi Kenaikan Harga Kacang Kedelai

FAJARNUSANTARA. COM
SUMEDANG – Dampak naiknya harga kacang kedelai dan sulitnya mendapatkan minyak goreng dikeluhkan sejumlah pengusaha pembuat tahu di Jatinangor. Pasalnya, dengan kondisi tersebut sejumlah pengusaha memilih mengurangi jumlah produksi.
Manager Rumah Makan Tahu Sari Kedelai Jatinangor Triko Amelza mengatakan
kenaikan harga kacang kedelai sangat berdampak terhadap produksi maupun sistem pelayanan. Karena, dari sistem produksi itu mempengaruhi cara pembuatan dan beban Harga Pokok Produksi (HPP) dan modal menjadi naik.
“Adanya kendala tersebut, Kita tetap mempertahankan kualitas, hanya beban ongkos pembelian bahan baku saja dari Rp10 ribu, naik menjadi Rp11 ribu perkilonya,” ucapnya. Senin (21/02).
Ia mengaku, sebelum adanya kenaikan harga kacang kedelai jumlah pengunjung yang datang berkurang, terutama saat covid-19 dan dioprasikannya Tol Cisumdawu seksi 1.
“Kami harus memutar otak agar kondisi seperti ini tidak semakin parah, salah satunya dengan membuat strategi, supaya bisa mempertahankan kualitas ditengah harga kacang kedelai yang meningkat,” tambahnya.
Selain naiknya harga kacang kedelai, kata ia, juga kelangkaan minyak, menjadi kendala, dimana ketika memesan minyak Migor, biasanya normal namun sekarang suka ada keterlambatan.
“Jadi kami seadanya saja kita beli minyak, dengan kondisi ini, ditambah covid-19 Karyawan yang awalnya ada 59 orang, ada dua kali pengurangan, namun sekarang kita mencoba mempertahankannya,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah bisa menekan lagi harga kacang kedelai, soalnya jika terus menerus naik, takutnya mempengaruhi perekonomian. Sebab, dirinya melibatkan masyarakat sekitar. (ESH)







