
FAJARNUSANTARA.COM- Ratusan pecinta alam memadati kawasan Teras Gunung Geulis, Senin pagi, 12 Mei 2025, dalam rangkaian kegiatan bertajuk Gunung Geulis Memanggil di jalur pendakian Gunung Geulis via Desa Jatiroke, Kabupaten Sumedang.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini sekaligus menjadi momentum pembukaan kembali jalur lama yang sempat vakum.
Ketua Komunitas Gunung Geulis Memanggil, Syarif Arifin, menyebut kegiatan ini terlaksana berkat kolaborasi komunitas pendaki dan dukungan penuh dari Pemerintah Desa Jatiroke.
“Lalu kita share di media sosial, ternyata atensinya luar biasa dari para pendaki. Hingga terbentuklah acara hari ini,” ujar Syarif kepada wartawan.
Selain aksi bersih-bersih jalur pendakian, kegiatan juga diisi dengan penataan empat pos pendakian yang dilengkapi petunjuk arah menuju puncak. Hal ini bertujuan mempermudah orientasi para pendaki dan menjaga kenyamanan selama perjalanan.
“Harapan kami, jalur Jatiroke ini tidak hanya memberi manfaat bagi warga sekitar, tetapi juga membantu pelestarian Gunung Geulis agar lebih asri,” kata Syarif.
Kepala Desa Jatiroke, Ulan Ruslan, menyambut baik semangat kolaboratif dari berbagai komunitas. Ia menyebut kegiatan ini sejalan dengan program nasional terkait kepedulian terhadap alam dan kehutanan.
“Alhamdulillah, ternyata banyak sekali dorongan, termasuk dari anggota DPRD yang hadir. Mudah-mudahan program ini membawa manfaat besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Ulan, pihak desa berencana menata kawasan sekitar hutan untuk mendukung pengembangan wisata alam dan kuliner.
“Teras Gunung Geulis sudah ada, selanjutnya kami siapkan potensi lainnya seperti wisata kuliner,” tuturnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Sumedang dari Fraksi Gerindra, Warson Mawardi. Ia menilai kegiatan ini potensial dalam mendukung pelestarian lingkungan.
“Kerja sama panitia ini luar biasa, bahkan dukungan datang dari komunitas luar Sumedang seperti Bandung dan Subang. Ini bisa jadi nilai positif bagi Desa Jatiroke,” kata Warson.
Ia menambahkan, jalur Jatiroke sebenarnya telah lama ada namun sempat tidak aktif. Dengan pembukaan kembali, diharapkan mampu menjadi motor penggerak pelestarian.
“Saya yakin para pendaki tahu bagaimana menjaga lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Gunung Geulis, Saefudin, mendorong agar kegiatan serupa terus digelar.
“Ini langkah awal menjaga kelestarian alam. Kami juga mendukung adanya peraturan desa agar jalur ini tertib dan berpotensi menjadi wisata agroforestry,” katanya.
Acara ini didukung sejumlah komunitas dan pelaku wisata lokal seperti Teras Gunung Geulis, Teras Kopo Geulis, Gugeulis, Desatana, Jercy, Jaguar, Gorim Komunitas Gunung Geulis, Aroma Farfum, Deris 92, dan Andoe Project.**







