FAJARNUSANTARA.COM- Pelaku industri tembakau di Kabupaten Sumedang mendesak pemerintah daerah segera membangun laboratorium pengujian kadar tar dan nikotin. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai krusial untuk menunjang proses produksi olahan tembakau agar sesuai regulasi.
Harapan itu mencuat dalam kegiatan diskusi terbuka bertajuk Penguatan Industri Tembakau Lokal melalui Inovasi dan Standarisasi Produk yang digelar di Gedung Pusat Promosi Produk UMKM, Sumedang, pada Rabu, 7 Mei 2025.
Ketua Asosiasi Pengusaha Tembakau Nasional (APTN) Jawa Barat, H. Agus Mulyawan, menyatakan pembangunan laboratorium lokal akan sangat membantu pelaku industri tembakau. Selama ini, kata dia, uji kadar tar dan nikotin hanya bisa dilakukan di Balai Laboratorium milik BPOM di Jakarta.
“Jika laboratorium ini bisa dibangun di Sumedang, tentu akan menghemat biaya operasional kami, karena tidak perlu lagi mengirim sampel ke Jakarta,” kata Agus saat ditemui usai diskusi.
Ia mencontohkan sejumlah daerah yang sudah memiliki fasilitas serupa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura. Menurutnya, Sumedang sudah saatnya menyusul, mengingat tren peningkatan produksi tembakau lokal yang terus naik dalam lima tahun terakhir.
“Seiring dengan pertumbuhan produksi tembakau di Sumedang, sudah sangat ideal kalau di Sumedang sendiri memiliki laboratorium pengujian tar dan nikotin,” ujar dia.
Agus menambahkan, pembangunan laboratorium bisa menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang memang dialokasikan untuk mendukung pengembangan industri hasil tembakau.
“Banyak keuntungan bagi semua pihak jika ada laboratorium, baik bagi pelaku industri tembakau maupun untuk pemerintah daerah. Salah satunya bisa meningkatkan kontribusi DBHCHT untuk membantu berbagai kebutuhan pembangunan di Sumedang,” papar Agus.
Kegiatan diskusi ini berlangsung dengan metode wawancara langsung kepada narasumber dan dihadiri oleh perwakilan Disperindag, pelaku UMKM tembakau, serta akademisi dari Universitas Padjadjaran.**







