Ekonomi

Ini Ramalan Sri Mulyani Perihal Ekonomi Indonesia

Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Indonesia, tidak menampik adanya kemungkinan terberat ekonomi Indonesia akan mengalami kemunduran dikarenakan wabah Covid 19. Perkataan Bendahara RI ini atas dasar skenario terberat yang akan dialami perekonomian tanah air jika virus ini tak kunjung berakhir. Sehingga bukan tak mungkin resesi makin jelas akan dialami Indonesia.

Dalam konferensi pers seusai sidang kabinet paripurna Sri Mulyani mengatakan dengan jelas bahwa jika keadaan berat panjang akan memungkinkan terjadinya resesi pada dua kuartal secara beruntun PDB hasilnya negatif. Sri Mulyani pun mengakui dalam perekonomian di kuartal II-2020 akan jadi titik terberat. Pemerintah memprediksikan kalau perkembangan ekonomi pada kuartal tersebut bisa menghampiri 0%.

Beliau juga mengatakan kalau pertumbuhan ekonomi dapat menurun 0,3%, mendekati angka nol atau bahkan negatif growth mencapai minus 2,6%. Namun pada kuartal ketiga kemungkinan akan terjadi recovery dengan pertumbuhan sebesar 1,5% dan 2,8%.

Resesi di sini dapat diartikan sebagai pengerutan atau kontraksi ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut di tahun yang sama. Contohnya, terjadi kontraksi pada kuartal I dan II, maka hal ini masuk kategori resesi. Oleh karena itu menteri keuangan tengah mengupayakan agar hal demikian tak terjadi. Walaupun sangat berat, Sri Mulyani berharap bisa menghadapi situasi luar biasa ini dan mencoba tuk mengatasi.

Ramalan perihal ekonomi Indonesia pada masa pandemi ini cukup memperhatikan. Imbas dari kebijakan memberantas covid 19 ini sangat berpengaruh di semua lini termasuk pertumbuhan ekonomi tanah air.

Selengkapnya

Redaksi Fajar Nusantara

Fajar Nusantara merupakan media online yang terbit sejak tanggal 17 April 2020 di bawah naungan badan hukum PT. Cyber Media Utama (CMU). PT. CMU telah memiliki badan hukum resmi tercatat di Negara dan memiliki ijin berusaha sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
Back to top button