Desa Hegarmanah Kejar Zero Stunting pada 2027
FAJARNUSANTARA.COM— Pemerintah Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, menggelar rembug stunting dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting. Pemerintah desa menargetkan wilayahnya dapat mencapai zero stunting pada 2027.
Kegiatan tersebut melibatkan kader Posyandu, bidan desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), tokoh masyarakat, tokoh agama, kader Posyandu Remaja, serta 10 orang perwakilan ibu hamil.

Dalam rembug tersebut, pihak Kecamatan Jatinangor, UPT Dalduk Jatinangor, dan Kepala Puskesmas Jatinangor turut hadir sebagai narasumber untuk memberikan penguatan terkait pencegahan stunting di tingkat desa.
Sekretaris Desa Hegarmanah Deni Nurjaman, mewakili Kepala Desa Hegarmanah Didi Sukandi, mengatakan capaian stunting di wilayahnya saat ini sekitar 0,7 persen. Pemerintah desa terus mendorong berbagai langkah agar angka tersebut dapat ditekan hingga mencapai nol.
“Kalau capaian target stunting sekitar 0,7 persen, kita terus upayakan supaya stunting di wilayah kami bisa mencapai zero stunting,” kata Deni. Rabu 16 September 2026.
Menurut dia, kader Posyandu memiliki peran penting dalam mendeteksi dan mencegah risiko stunting sejak masa kehamilan. Karena itu, pemerintah desa mendorong para kader agar semakin aktif melakukan pemeriksaan dan pendampingan terhadap ibu hamil.
“Kami terus menggeber gerakan terhadap para kader Posyandu supaya lebih eksis lagi memeriksa para ibu hamil agar terbebas dari stunting,” ujarnya.
Deni mengatakan penanganan stunting membutuhkan kerja sama seluruh unsur masyarakat. Pemerintah desa, kader kesehatan, tenaga medis, hingga masyarakat perlu bergerak bersama untuk mencapai target tersebut.
“Kita bareng-bareng dalam satu kerja sama yang solid guna menuju zero stunting. Kami juga kompak berharap pada 2027 bisa mencapai target zero stunting,” katanya.
Sementara itu, Plt Camat Jatinangor Endang Rohmayudi meminta gerakan rembug stunting tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
Menurut dia, komunikasi dan kolaborasi antarlini harus terus dijaga untuk memastikan persoalan stunting dapat ditangani sejak dini.
“Gerakan rembug stunting ini harus kita jaga terus, jangan sampai terputus, dengan harapan wilayah Jatinangor menjadi sebuah tempat yang benar-benar zero stunting,” kata Endang.
Ia juga meminta seluruh unsur di wilayah Jatinangor bekerja secara kompak dalam menjaga kesehatan masyarakat, khususnya kelompok yang rentan mengalami stunting.
“Semua lini harus kompak, kerja bareng-bareng guna menjaga masyarakat jangan sampai terkena stunting,” ujarnya.
Endang menambahkan, persoalan yang membutuhkan penanganan segera dapat langsung dikoordinasikan dengan pihak kecamatan agar mendapat tindak lanjut.
“Apabila ada hal-hal yang benar-benar urgen, bisa langsung lapor ke kecamatan untuk segera ditindaklanjuti. Jadi, jangan sungkan untuk berkomunikasi,” kata Endang.**







