DaerahPemerintahanPolitik

Dodi Kurnaedi No Urut 2 Usung “Amanah Berkah”, Bidik Desa Sayang Makin Maju dan Sejahtera

FAJARNUSANTARA.COM— Bakal calon Kepala Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, nomor urut 2, Dodi Kurnaedi, mengusung visi pembangunan “Amanah Berkah” untuk periode 2026–2034. Visi tersebut menitikberatkan pada pembangunan desa yang agamis, maju, aman, sejahtera, berkelanjutan, kolaboratif, aspiratif, dan harmonis.

Melalui slogan “Lanjutkan Amanah, Wujudkan Berkah”, Dodi menawarkan lima misi utama, mulai dari pembenahan tata kelola pemerintahan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, pemerataan infrastruktur, hingga penguatan partisipasi dan keharmonisan masyarakat.

Dodi mengatakan visi dan misi itu disusun berdasarkan kondisi riil Desa Sayang serta evaluasi terhadap pembangunan yang telah berjalan selama delapan tahun terakhir.

“Visi misi ini bukan sekadar slogan. Kami menyusunnya berdasarkan data kondisi riil Desa Sayang dan evaluasi atas capaian pembangunan selama ini,” kata Dodi. Selasa 8 September 2026.

Desa Sayang memiliki luas wilayah sekitar 232 hektare yang terbagi dalam tiga dusun, 13 RW, dan 54 RT.

Berdasarkan validasi data kependudukan Desember 2024, desa tersebut memiliki 8.948 penduduk yang tergabung dalam 2.805 kepala keluarga.

Letak Desa Sayang yang berada di antara kawasan industri, perdagangan, dan perguruan tinggi membuat wilayah tersebut memiliki posisi strategis di Jatinangor. Sejumlah kawasan industri berada di sekitar desa, sementara aksesnya juga dekat dengan IPDN, IKOPIN, ITB, dan UNPAD.

Kondisi tersebut turut mendorong perubahan struktur ekonomi masyarakat. Desa Sayang yang sebelumnya bercorak agraris kini berkembang menjadi wilayah berbasis jasa dan perdagangan. Data yang dipaparkan Dodi mencatat 1.309 warga bekerja sebagai pegawai swasta dan 1.120 orang menjadi wiraswasta.

Sementara jumlah warga yang bekerja sebagai petani tersisa 33 orang.
Di bidang pendidikan, masih terdapat 919 warga yang belum tamat SD. Adapun penduduk yang menempuh pendidikan Diploma III hingga perguruan tinggi tercatat 1.061 orang atau sekitar 11,9 persen.

Menurut Dodi, kondisi tersebut menjadi salah satu dasar penyusunan program peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Kita harus memanfaatkan posisi Desa Sayang yang berada di kawasan pendidikan dan industri. Anak muda harus memiliki keterampilan, pendidikan, dan kemampuan digital agar mampu bersaing,” ujarnya.

Lima Misi “Amanah Berkah”
Dodi menyusun lima misi pembangunan untuk menerjemahkan visi “Amanah Berkah” ke dalam program kerja.

Pertama, tata kelola pemerintahan yang amanah, transparan, dan melayani. Program ini mencakup digitalisasi pelayanan desa, keterbukaan informasi keuangan, peningkatan kapasitas aparatur, serta penyediaan kanal pengaduan masyarakat.

Dodi juga menjadikan capaian Survei Kepuasan Masyarakat sebagai modal untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Desa Sayang tercatat mempertahankan kategori “Sangat Baik” dalam survei tersebut sejak 2022 hingga 2025.

Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dodi menawarkan bantuan pendidikan, pendidikan kesetaraan bagi warga yang belum menyelesaikan pendidikan dasar, pelatihan vokasi, literasi digital bagi pemuda, serta kerja sama dengan perguruan tinggi di sekitar Jatinangor.

Ketiga, penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, kewirausahaan, dan kemitraan. Program ini diarahkan pada digitalisasi UMKM, pengembangan unit usaha BUMDes, serta kerja sama dengan kawasan industri dan perguruan tinggi.

Dodi menyebut pengelolaan kios dan ruko milik desa menjadi salah satu contoh potensi aset desa yang dapat dikembangkan. Pendapatan Asli Desa (PADes) disebut meningkat dari Rp31,5 juta pada 2019 menjadi Rp179,5 juta pada periode 2025–2026.

Keempat, pemerataan infrastruktur, lingkungan, dan fasilitas umum. Dodi menargetkan pemerataan jalan lingkungan di seluruh 13 RW serta perluasan akses air bersih yang saat ini baru menjangkau sekitar sepertiga kepala keluarga.

Ia juga menyoroti persoalan lingkungan, termasuk potensi genangan dan pencemaran Sungai Cikeruh yang berada di sisi timur wilayah Desa Sayang.

Kelima, memperkuat partisipasi, gotong royong, dan keharmonisan masyarakat. Dodi ingin menghidupkan kembali peran PKK, LPM, dan Karang Taruna serta memperkuat Musyawarah Desa dan Musrenbang Desa agar masyarakat terlibat sejak tahap perencanaan hingga pengawasan pembangunan.

“Pembangunan tidak boleh hanya dilakukan pemerintah desa. Masyarakat harus menjadi subjek pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan,” kata Dodi.

Ia juga menekankan pentingnya keterwakilan perempuan dan pemuda dalam proses pembangunan serta pemerataan sistem keamanan lingkungan di seluruh RW.

Menurut Dodi, keberagaman masyarakat Desa Sayang merupakan modal sosial yang harus dipelihara. Posisi desa yang berada di kawasan pendidikan, industri, dan perdagangan membuat masyarakatnya semakin majemuk.
Karena itu, konsep “Aman” dalam

“AMANAH” tidak hanya dimaknai sebagai keamanan dan ketertiban, tetapi juga sebagai upaya menjaga keharmonisan sosial melalui gotong royong dan toleransi.

Dodi berharap visi dan misi tersebut dapat menjadi pijakan penyusunan pembangunan Desa Sayang selama periode 2026–2034.

“Lanjutkan Amanah, Wujudkan Berkah. Kami ingin setiap capaian yang sudah ada menjadi fondasi untuk membawa Desa Sayang lebih maju, mandiri, sejahtera, dan harmonis,” ujarnya.**

Enceng Syarif Hidayat

Enceng Syarif Hidayat adalah seorang jurnalis yang aktif liputan di Sumedang, Jawa Barat. Enceng mengawali karirnya di dunia jurnalistik dimedia lokal online Sumedang. Liputan utamanya di wilayah Barat Sumedang.
Back to top button