Desa Cileles Jatinangor Menuju Smart City, Dimulai dari Sampah dan Ikan

FAJARNUSANTARA.COM- Program Living Lab resmi diluncurkan di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang sebagai proyek percontohan penanganan sampah berbasis kampus dan masyarakat. Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat-Banten, Lukman, menyebut program ini sebagai bentuk nyata sinergi akademisi dalam menjawab dua tantangan utama: krisis lingkungan dan ekonomi berkelanjutan.
“Kita punya 418 perguruan tinggi dengan hampir 3.000 program studi dan lebih dari 863 ribu mahasiswa. Ini potensi luar biasa untuk menyelesaikan persoalan bangsa, termasuk soal sampah,” kata Lukman saat memberi sambutan, Senin, 8 Juli 2025.
Program Living Lab di Sumedang merupakan bagian dari inisiatif “Kampus Berdampak” yang diterjemahkan menjadi Gradasi — Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi. Dalam tahap awal, kampus diminta tidak hanya mengelola sampahnya secara mandiri, tetapi juga membina wilayah di sekitarnya agar ikut bertransformasi.
“Minimal satu prodi harus punya dampingan di satu RW. Di Cimahi, kami sudah uji coba dan hasilnya menjanjikan. Kami ingin ini meluas ke kabupaten/kota lain,” ujar Lukman.
Dalam program ini, kampus akan dibekali peralatan seperti biocomposter, pengecekan unsur hara, hingga pengolah plastik menjadi biji plastik. Sejumlah perguruan tinggi seperti Telkom dan Universitas Papua sudah menyatakan dukungan.
Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldila, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai Living Lab sebagai solusi konkret yang selaras dengan upaya Pemkab Sumedang dalam menanggulangi krisis sampah yang kian mengkhawatirkan.
“Sampah di Sumedang per harinya sudah mencapai 140 ton. Ini butuh kolaborasi konkret. Living Lab adalah jawaban, bukan sekadar wacana,” tegas Fajar.
Ia mengaku baru 20 hari menjabat sebagai wakil bupati, namun langsung turun ke lapangan mengelilingi Jatinangor untuk menguatkan struktur ekonomi daerah. Menurutnya, branding Jatinangor sebagai kawasan smart city butuh fondasi bersih dan tertib, termasuk soal pengelolaan sampah.
Tak hanya soal lingkungan, Fajar juga menyoroti aspek sosial. Ia menyinggung fenomena pernikahan dini dan anak-anak broken home yang menjadi tantangan pembangunan sumber daya manusia di Sumedang.
“Saya temukan anak usia 15-16 tahun sudah menikah dan punya anak. Ini bukan hanya soal budaya, tapi soal kesiapan mental dan ekonomi. Kita harus hadir dengan pendekatan pendidikan dan ekonomi,” ujarnya.
Fajar juga menggagas program Sekolah Rakyat di mana anak-anak dari keluarga tak mampu bisa tetap bersekolah dengan syarat orang tuanya ikut memberdayakan koperasi desa. Program ini, katanya, akan sinkron dengan gerakan “Operasi Desa Merah Putih” yang tengah dirancang.
“Kabupaten Sumedang ingin menjadi rumah inovasi. Living Lab ini bukan akhir, tapi awal dari transformasi desa menuju Indonesia Emas 2045,” tandasnya.
Rektor Universitas Widyatama, Prof. Dr. H. Dadang Suganda, M.Hum., mengatakan pengembangan alat ini merupakan bagian dari riset terapan dalam kerangka Living Lab yang mendorong pemanfaatan teknologi di masyarakat secara langsung.
“Alat ini merupakan bentuk implementasi Widyatama dalam menindaklanjuti konsep Living Lab yang menjadi program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” kata Dadang kepada wartawan usai acara peresmian.
Menurutnya, Desa Cileles menjadi desa pertama yang mendapat kesempatan menerapkan teknologi tersebut secara nyata. Proyek ini difokuskan pada budidaya ikan lele dan nila yang banyak dikembangkan oleh warga setempat.
“Pertama berkaitan dengan kegiatan di Cileles, kami sedang melakukan riset terkait alat pendeteksi budidaya ikan lele dan nila yang berbasis AI. Itu sesuai dengan yang digulirkan oleh Dirjen Saintek,” ujar dia.
Ia menambahkan, riset ini tak hanya menyasar sektor pertanian perikanan, tetapi juga membuka peluang terbentuknya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) baru yang terintegrasi dengan industri kreatif.
Kolaborasi riset ini juga diarahkan untuk mendukung daya tarik wisata lokal di kawasan Jatinangor. “Dari hal itu akan ada dampak ke masyarakat, yaitu bisa menciptakan UMKM dan industri kreatif,” kata Dadang.**







