ArtikelPendidikan

Belajar dari Sidogiri dan Gontor: Dua Model Metabolisme Pesantren

Oleh: Muhammad Irfanudin Kurniawan

Jika pesantren adalah sebuah organisme, maka sistem keuangannya adalah metabolisme. Ia yang mengubah makanan (dana masuk) menjadi energi (kegiatan pendidikan, dakwah, pemberdayaan).

Ada pesantren yang metabolismenya lambat, lesu, energinya hanya cukup untuk bertahan, tidak untuk tumbuh.

Ada juga yang metabolismenya cepat, bahkan berlebihan, sampai-sampai ia tumbuh besar tapi kewalahan mengelola dirinya sendiri.

Tapi di antara ribuan pesantren di Indonesia, ada dua yang menarik untuk dicermati, Sidogiri dan Gontor. Dua pesantren ini berbeda usia, berbeda lokasi, berbeda tradisi keilmuan. Namun keduanya memiliki satu kesamaan, mereka berhasil membangun metabolisme ekonomi yang kokoh, tanpa kehilangan jati diri sebagai lembaga pendidikan dan dakwah.

Sidogiri: Dari Kedai Kecil ke Jaringan ritel nasional

Pesantren Sidogiri di Pasuruan berdiri tahun 1745. Sejak awal, pesantren ini sudah mengajarkan kemandirian. Tapi yang menarik, dari pondok salaf yang terkesan “konservatif” ini, lahir sebuah jaringan ekonomi yang luar biasa.

Ceritanya dimulai dari sebuah kedai kecil yang dikelola santri. Kemudian pada 1961, didirikan koperasi pondok pesantren (kopontren).

Tiga puluh sembilan tahun kemudian, tepatnya tahun 2000, lahirlah Koperasi BMT UGT yang kini memiliki lebih dari 270 cabang, lintas provinsi, dengan aset mencapai triliunan rupiah.

Apa rahasianya?

Menurut paparan data dalam sebuah forum di Darunnajah pekan lalu, Sidogiri melakukan tiga strategi cerdas.

Pertama, internalisasi pasar santri. Setiap santri butuh kebutuhan pokok, kitab, dan seragam. Kebutuhan itu tidak perlu dibeli di luar. Koperasi menyediakannya. Perputaran uang terjadi di dalam ekosistem pesantren sendiri. Sejak hari pertama, uang sudah berputar, tidak perlu menunggu donatur.

Kedua, spin-off ke layanan keuangan mikro. Setelah koperasi stabil, Sidogiri melahirkan BMT yang fokus pada pemberdayaan pedagang kecil di sekitar pesantren.

Mereka tidak hanya melayani santri, tetapi juga masyarakat. Ini penting karena pesantren tidak menjadi menara gading yang hanya sibuk dengan urusan internal. Ia keluar, menyentuh ekonomi rakyat, sekaligus memperluas jaringan.

Ketiga, reinvestasi terstruktur. Surplus tahunan tidak dibagikan, tetapi dialokasikan untuk membuka cabang baru. Akibatnya, pertumbuhan aset terjadi secara organik, tanpa utang berbunga.

Mereka tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru mencari untung besar. Tumbuhan, bukan lompat.

Kami jadi teringat falsafah pohon pisang yang diajarkan KH Mahrus Amin di Darunnajah. Tunas harus dipisahkan agar tumbuh maksimal.

Sidogiri melakukannya dengan membuka cabang-cabang BMT di berbagai daerah. Setiap cabang adalah tunas baru, dengan akar yang sama, tapi tumbuh di tanah yang berbeda.

Gontor: Wakaf sebagai Jangkar, Unit Usaha sebagai Mesin

Cerita Gontor lain lagi. Pesantren modern yang didirikan tahun 1926 ini tidak terlalu besar-besaran dalam ekspansi unit usaha seperti Sidogiri. Tapi ia punya strategi yang tidak kalah cerdas, memisahkan aset pribadi dan lembaga.

Pada tahun 1958, para pendiri Gontor mewakafkan seluruh tanah dan bangunan pesantren kepada Badan Wakaf Pondok Modern. Keluarga pendiri tidak mewariskan aset. Keputusan ini, merupakan ijtihad cerdas menutup risiko sengketa di masa depan dan menjamin kelangsungan jangka panjang. Tanah tidak bisa dijual, tidak bisa diwariskan. Ia abadi.

Dengan aset yang aman, Gontor kemudian mengembangkan lebih dari 30 unit usaha, percetakan Darussalam Press, pertanian, peternakan, bengkel meubel, toko, dan lain-lain. Unit-unit ini tidak hanya menyokong kebutuhan internal pesantren, tetapi juga menghasilkan surplus untuk pengembangan kampus.

Yang paling menarik adalah subsidi silang pendidikan. Surplus dari unit usaha dipakai untuk menjaga biaya pendidikan tetap terjangkau. Bahkan, sebagian digunakan untuk beasiswa santri kurang mampu.

Dengan kata lain, santri miskin tidak harus berutang atau mengemis. Mereka dibiayai oleh hasil usaha pesantren sendiri.

Kami sering membayangkan, andai setiap pesantren memiliki minimal satu unit usaha produktif yang sehat, berapa banyak santri yang bisa terbantu?

Tidak perlu menunggu dana dari pemerintah atau sumbangan donatur. Pesantren bisa berdiri di kaki sendiri.

Apa Pelajaran untuk Kita?

Dari dua model ini, ada tiga pelajaran yang bisa kita petik.

Pertama, pisahkan kepemilikan pribadi dan lembaga. Kasus sengketa pesantren sering terjadi karena tidak ada batas tegas antara aset kiai dan aset pondok.

Gontor sudah menyelesaikannya sejak 1958 dengan wakaf.

Sidogiri juga memisahkan kepengurusan koperasi dan BMT dari pengasuhan pesantren.

Kedua, mulai dari yang kecil. Sidogiri tidak langsung melompat ke BMT raksasa. Ia memulai dari kedai kecil dan koperasi sederhana.

Gontor juga memulai dari percetakan kecil. Tidak perlu tergesa-gesa. Metabolisme yang sehat adalah metabolisme yang terukur.

Ketiga, orientasi pada keberkahan, bukan keuntungan semata. Keberhasilan Sidogiri dan Gontor bukan diukur dari seberapa besar asetnya, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan santri dan masyarakat. Surplus dikembalikan ke pendidikan, bukan ke kantong pribadi.

Ini penting karena seringkali pesantren yang mulai mengembangkan unit usaha tergoda untuk berorientasi profit semata. Maka ia akan kehilangan ruh.

Ini tidak akan jauh berbeda dengan perusahaan biasa. Yang membedakan pesantren dengan korporasi adalah niat dan orientasi akhiratnya.

Maka, jika pesantren kita ingin memiliki metabolisme yang sehat, jangan hanya sibuk membuka toko atau koperasi. Tetapi bangunlah sistem.

Pisahkan kepemilikan. Kaderkan SDM. Dan yang terpenting, ingatkan diri sendiri, uang yang kita kelola adalah amanah. Akan dimintai pertanggungjawaban.

Pesantren yang mengelola keuangan dengan amanah, adalah pesantren yang akan tetap berdiri, mengajar, dan memberdayakan puluhan tahun setelah para pendirinya tiada.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pendidikan. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.

Damha

Suka membaca dan menulis, selalu ingin belajar lebih baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
PETIR800 LOGIN PETIR800