DaerahPendidikan

Pesantren Persis Al-Asma Gelar Pelatihan Dakwah Bil-Kitabah

FAJAR NUSANTARA. COM, Sumedang – Kemampuan menulis merupakan salah satu kompetensi krusial yang perlu dimiliki oleh santri di era modern.

Dalam konteks dakwah Islam, menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga menjadi sarana strategis untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman secara luas, sistematis, dan berkelanjutan.

Santri yang mampu menulis dengan baik dapat berkontribusi dalam khazanah keilmuan Islam dan turut serta dalam membangun peradaban berbasis literasi.

Photo : Peserta Pelatihan Dakwah Bil-Kitabah di Pesantren Persis Al-Asma

Hal ini sejalan dengan tradisi ulama-ulama terdahulu yang meninggalkan warisan dakwah dan keilmuan melalui karya tulis yang hingga kini menjadi rujukan utama.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Pesantren Persis Al-Asma Sumedang menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Menulis untuk Santri sebagai Bagian dari Pendidikan Dakwah Bil-Kitabah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh tim dosen dari Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) dan Institut Agama Islam Persis Bandung (IAI Persis).

Kegiatan berlangsung sejak 12 April hingga 21 Juni 2025 di lingkungan Pesantren Persis Al-Asma yang berlokasi di Jl. Prabu Gajah Agung No. 23, Desa Jatihurip, Sumedang Utara.

Materi pelatihan disampaikan oleh para akademisi yang kompeten di bidang literasi dan dakwah.

Agus Susilo Saefullah, S.Pd., M.Pd. menyampaikan materi pengenalan struktur karya tulis ilmiah sekaligus membimbing praktik menulis artikel jurnal berbasis Open Journal System (OJS).

Previo Prince Caesar Aslah yang merupakan santri senior dari IAI Persis Bandung memberikan pelatihan penggunaan Mendeley dan teknik pencarian sumber ilmiah melalui Google Scholar secara efektif.

Abdul Hakim, S.Fil., M.Pd. membuka wawasan peserta dengan pertanyaan reflektif “Mengapa santri perlu belajar menulis?” yang disambut antusias oleh peserta.

Selain itu, Lau Han Sein, S.Ag., M.Pd. mengajak santri meneladani para ulama klasik yang menjadikan menulis sebagai sarana dakwah dan pembentukan peradaban.

Abdul Azis, S.Hum., M.Pd. menutup rangkaian materi dengan menyampaikan urgensi dakwah melalui media digital dan pentingnya kehadiran narasi keislaman yang moderat dan mencerahkan di ruang-ruang daring.

Pelatihan ini dilaksanakan dengan metode hybrid (tatap muka dan daring).

Sesi daring dilakukan melalui Zoom dan grup WhatsApp secara intensif, sementara pendampingan menulis dilakukan langsung di lingkungan pesantren.

Para santri dibimbing dalam menulis artikel ilmiah secara sistematis, dengan target luaran berupa naskah artikel yang siap diajukan ke jurnal OJS.

Hasil konkret dari pelatihan ini telah tampak dari karya mahasantri yang berhasil menulis dan menyelesaikan artikel ilmiah dengan format jurnal yang siap terbit.

Di antaranya adalah tulisan berjudul “Keteladanan Ulama dalam Tradisi Menulis: Suatu Kajian Historis”, “Urgensi Pembelajaran Bahasa Arab Sejak Dini dalam Perspektif Kaderisasi Ulama Turats”,

“Revitalisasi Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban Islam: Tinjauan Konseptual dan Historis”, serta “Makna Istithā‘ah sebagai Syarat Kewajiban Haji dalam Perspektif Hukum Islam”.

Keempat naskah ini merupakan hasil bimbingan intensif yang menggambarkan keterpaduan antara kemampuan analisis keislaman dan gaya akademik yang representatif.

Dalam wawancara terpisah, Pimpinan Pesantren Persis Al-Asma Sumedang, Ust. Firman Solihin, M.Ag., menyampaikan apresiasinya atas kegiatan ini.

Ia mengatakan, “Menulis terlebih tulisan ilmiah adalah kemampuan yang sangat dibutuhkan oleh para santri di era saat ini, mulai dari yang sifatnya teknis seperti format baku judul-subjudul, penggunaan aplikasi sitasi, dan lain-lain, hingga yang substansial seperti bagaimana mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data, serta alur mendiskusikan sebuah gagasan.

Tidak lain agar nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan dapat dibagikan kepada khalayak lebih luas melalui penulisan buku dan terutama artikel jurnal, dengan menggunakan simbol dan gaya yang dikenali dan dapat dipahami oleh masyarakat akademik.”
Lebih lanjut,

ia menambahkan, “Terima kasih kepada Ust. Agus S. Saefullah, M.Pd. dan tim, dosen Universitas Singaperbangsa Karawang, atas sharing dan bimbingan intensif pada pelatihan ini kepada para santri kami di Ponpes PERSIS Al-Asma Sumedang.

Melalui sharing dan bimbingan tersebut, kami berharap, bahkan sangat optimis, para santri di ponpes ini tidak hanya menjadi da’i yang cakap berorasi di mimbar, tapi juga secara produktif berkontribusi di platform akademik dengan ikut serta menulis. Aamiin Ya Allah.”

Pesantren Persis Al-Asma sendiri merupakan pesantren yang memiliki konsentrasi khusus dalam melahirkan santri yang cakap menulis. Sebelumnya,

santri-santri dari pesantren ini telah berhasil menerbitkan tiga buku, menulis lebih dari 20 artikel ilmiah yang telah terbit di berbagai jurnal berbasis OJS—beberapa di antaranya bahkan telah terindeks SINTA—dan menghasilkan puluhan tulisan populer yang dimuat di website serta majalah Risalah.

Kegiatan ini mendapat respon positif dari peserta. Para santri mengaku mendapatkan wawasan baru sekaligus motivasi kuat untuk mulai aktif menulis.

Dengan pelatihan ini, diharapkan lahir para penulis muda dari kalangan santri yang siap berdakwah melalui tulisan, serta ikut menjaga dan mengembangkan tradisi literasi Islam di tengah tantangan zaman.***

Dodi Partawijaya

Dodi Partawijaya aktif sebagai seorang jurnalis dimulai sejak berdirinya Fajar Nusantara. Selain aktif di dunia jurnalis, Dodi juga aktif di ormas kepemudaan Islam dan juga berbagai organisasi lainnya. Jaringannya yang luas, membuatnya mampu berkontribusi untuk memberika ide dan gagasan melalui tulisan di Fajar Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button