BudayaDaerahSeni dan BudayaSosialUncategorized

Membangun Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara

FAJARNUSANTARA.COM – Simposium bertajuk Membangun Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara digelar sebagai upaya membaca kembali gagasan Nusantara bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang relevan untuk menjawab tantangan masa depan. Kegiatan ini diinisiasi Komunitas Swarabuana dan berlangsung pada Ahad, 11 Januari 2026.

Nusantara dipahami sebagai peradaban perjumpaan yang tumbuh dari keberagaman budaya, spiritualitas, dan relasi manusia dengan alam.

Salah Satu Pengurus Komunitas Swarabuana Wahyu mengatakan bahwa, dalam konteks krisis ekologis, keterputusan sosial, dan melemahnya nilai kebersamaan, gagasan Nusantara kembali relevan untuk dibahas secara kritis dan kontekstual.

Panitia Simposium menilai pembicaraan tentang Nusantara hari ini bukanlah nostalgia.

Baca Juga :  Ngabadega di Cipacing, Sumedang Membumi Hadirkan Layanan Langsung untuk Warga

“Nusantara adalah peradaban perjumpaan. Ia tidak lahir untuk menguasai dunia, tetapi untuk mengajarkan cara hidup bersama di dunia yang beragam,” ujarnya.

Simposium ini bertujuan membangun jejaring lintas komunitas budaya, mempertemukan gagasan dan praktik baik dari berbagai wilayah, serta merumuskan langkah bersama dalam merawat nilai-nilai kebudayaan, spiritualitas, dan keberlanjutan hidup.

Kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat kesadaran bahwa pengetahuan Nusantara menyimpan kebijaksanaan masa depan.

“Membicarakan Nusantara hari ini bukan nostalgia, melainkan upaya membaca kembali pengetahuan masa depan yang telah lama kita miliki,” tandasnya.

Komunitas Swarabuana lahir dari kesadaran akan pentingnya menyelaraskan kembali relasi manusia dengan alam dan kehidupan.

Baca Juga :  Bupati Sumedang Janji Kawal Aspirasi Pekerja

Kata Swara berarti suara atau panggilan, sementara Buana berarti bumi atau dunia. Swarabuana dimaknai sebagai suara bumi yang menyeru manusia untuk kembali menyatu dengan semesta.

Komunitas ini memosisikan diri sebagai ruang kebersamaan yang merawat keseimbangan antara alam, pangan, budaya, spiritualitas, dan kehidupan sosial.

“Kami percaya bumi adalah ibu yang memberi kehidupan, dan manusia adalah penjaga yang berkewajiban merawatnya,” kata perwakilan Komunitas Swarabuana.

Selain itu, Swarabuana juga menghidupkan nilai welas asih dan kesadaran spiritual melalui doa, meditasi, serta penggalian kebijaksanaan leluhur Nusantara.

Baca Juga :  Pemkab Sumedang Jajal Mini Soccer Bersama Jurnalis, Perkuat Sinergi Pemerintah dan Pers

Budaya dirawat sebagai akar jati diri, sementara gotong royong dan solidaritas sosial diperkuat sebagai fondasi kehidupan bersama.

Simposium dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang menghadirkan pemantik dari berbagai latar belakang budaya, spiritual, dan komunitas. Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan menempatkan pengalaman dan praktik nyata sebagai sumber pengetahuan utama.

Melalui simposium ini, Swarabuana ingin menjadi jembatan antara manusia dengan alam, antar sesama manusia, serta manusia dengan Sang Pencipta.

“Kami hadir sebagai ruang bersama bagi insan yang ingin bergerak dengan kesadaran, welas asih, dan karya nyata yang selaras dengan alam,” ujar panitia.**

Enceng Syarif Hidayat

Enceng Syarif Hidayat adalah seorang jurnalis yang aktif liputan di Sumedang, Jawa Barat. Enceng mengawali karirnya di dunia jurnalistik dimedia lokal online Sumedang. Liputan utamanya di wilayah Barat Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button