Dakwah Bukan Sekadar Ceramah

Oleh: Muhammad Irfanudin Kurniawan
Kami sering kali diundang berbicara di forum organisasi Islam. Pengurus masjid, pengajian ibu-ibu, pernah juga di acara partai politik berbasis agama. Mereka selalu minta ceramah yang penuh motivasi. Yang penuh kata mutiara. Yang bisa membuat jamaah menangis.
Tapi saya kadang bertanya dalam hati. Setelah ceramah selesai, lalu apa?
Kita sadar, dakwah yang hanya berhenti di ceramah tidak akan mengubah apa pun. Kita bisa lihat sendiri. Panggung pengajian megah, tapi korupsi tetap merajalela. Para dai viral di YouTube, tapi masyarakat masih haus keadilan. Ormas Islam punya jutaan anggota, tapi pengaruh politiknya lemah. Partai Islam sibuk rebutan kursi, dan rakyat kecil akhirnya tidak merasakan kehadirannya.
Kenapa ini terjadi? Karena kita lupa bahwa Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan ceramah. Beliau membangun peradaban. Dan peradaban itu dibangun dengan tiga tahapan yang jelas. Saya coba sarikan dari berbagai kajian sirah.
Tahap Pertama, Tasqif. Bukan Sekadar Pengajian, Tapi Kaderisasi
Rasulullah SAW menghabiskan waktu 13 tahun di Makkah. Beliau tidak serta-merta mendirikan negara. Beliau tidak langsung memerangi kaum Quraisy. Beliau justru sibuk dengan satu hal. Tasqif. Pembinaan akidah dan kaderisasi.
Para sahabat dididik secara intensif. Mereka diajari tauhid, dibersihkan dari warisan jahiliyah, ditempa di tengah tekanan dan siksaan. Mereka menjadi generasi yang tangguh. Bukan sekadar hafal Al-Qur’an, tapi juga memiliki kepribadian Islam yang kuat.
Saya bandingkan dengan pesantren dan organisasi Islam kita sekarang. Apakah kita serius dalam kaderisasi? Atau hanya mengadakan pelatihan singkat, lalu memberi sertifikat, lalu lupa?
Di pesantren, kita punya sistem khidmah. Santri wajib mengabdi satu tahun sebelum ijazah diberikan. Ini sebenarnya bentuk tasqif. Tapi seringkali hanya dijalankan formalitas, tanpa pembinaan yang sungguh-sungguh.
Di organisasi, kaderisasi sering berhenti di pelatihan dasar. Setelah itu, kader dibiarkan mandiri tanpa pendampingan. Akibatnya, ketika mereka diberi amanah, mereka tidak siap. Mereka stres, bingung, bahkan ada yang korupsi.
Rasulullah mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru. Bangun akidah dan kader dulu. Karena tanpa generasi yang matang, apa pun yang dibangun akan rapuh.
Tahap Kedua, Tafa’ul Ma’al Ummah. Bukan Sekadar Ceramah, Tapi Menjadi Solusi
Setelah kader matang, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Di sana, beliau tidak langsung memerintah. Beliau berinteraksi dengan masyarakat. Beliau membangun opini. Beliau menjadi solusi atas masalah riil yang dihadapi penduduk Madinah.
Beliau mendamaikan suku Aus dan Khazraj yang berseteru. Beliau membuat perjanjian dengan kaum Yahudi. Beliau mengatur tata kota, pasar, dan sistem pertahanan. Masyarakat melihat Islam sebagai pembawa rahmat, bukan sekadar ajaran ritual.
Ini yang sering kita lupakan. Ormas dan partai Islam kita sibuk dengan jargon dan retorika. Tapi ketika masyarakat kekurangan bahkan kelaparan, mereka ghaib. Ketika ada bencana, mereka lambat. Ketika terjadi ketidakadilan, mereka diam.
Dakwah harus menyentuh realitas. Rasulullah tidak hanya bicara tentang surga dan neraka. Beliau juga bicara tentang harga pasar, tentang hak perempuan, tentang pengelolaan air, dan tentang keamanan kampung.
Jika organisasi Islam hanya sibuk dengan pengajian internal dan tidak pernah turun ke masyarakat, maka ia akan kehilangan relevansi. Masyarakat akan mencari solusi lain. Dan pada akhirnya, agama menjadi asing di tengah umatnya sendiri.
Tahap Ketiga, Istilamul Hukmi. Bukan Sekadar Rebutan Kursi, Tapi internalisasi nilai.
Setelah masyarakat Madinah siap, Rasulullah SAW menerima kekuasaan. Beliau mendirikan negara, menegakkan institusi, dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru.
Tapi perhatikan. Istilamul hukmi, penerimaan kekuasaan, bukan tujuan. Ia adalah alat. Kekuasaan diambil bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan, tetapi untuk menegakkan keadilan dan menyebarkan nilai-nilai Islam.
Saya prihatin melihat sebagian partai Islam dan ormas yang hanya sibuk berebut kursi kekuasaan. Mereka lupa bahwa kekuasaan adalah amanah. Mereka tidak siap secara kader. Mereka tidak memiliki program yang betul-betul berpihak pada rakyat. Kebanyakan mereka hanya ingin mengambil, bukan memberi.
Rasulullah mengajarkan kita untuk tidak meminta jabatan. Jika diberi, jalankan dengan amanah. Jika tidak, tetaplah berbuat baik di posisi mana pun.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Pertama, organisasi Islam harus kembali ke tasqif. Serius dalam kaderisasi. Bukan hanya pelatihan satu-dua hari, tapi pembinaan berkelanjutan. Pesantren bisa menjadi model. Tapi pesantren sendiri harus memperbaiki sistem kaderisasinya.
Kedua, ormas dan partai Islam harus betul-betul turun ke masyarakat. Bukan hanya saat pemilu. Jadilah solusi. Bantu rakyat kecil. Perjuangkan hak-hak mereka. Kritisi kebijakan yang zalim. Bekerja sama dengan siapa pun yang mau menegakkan kebenaran.
Ketiga, jangan tergila-gila dengan kekuasaan. Istilamul hukmi adalah amanah, bukan target. Lebih baik tidak punya jabatan tapi dekat dengan rakyat, daripada punya jabatan tetapi jauh dari nilai-nilai Islam.
Penutup
Dakwah Rasulullah bukan sekadar ceramah. Ia adalah proyek peradaban. Membutuhkan waktu panjang, kesabaran, dan strategi yang matang.
Kita boleh punya pengajian besar. Kita boleh punya kiai terkenal. Kita boleh punya jamaah jutaan. Tapi jika tidak ada kaderisasi, tidak ada interaksi dengan masyarakat, dan hanya sibuk rebutan kekuasaan, maka kita hanya akan menjadi sekadar peradaban yang kita sendiri saksikan kehancurannya.
Mari kita kembali ke jalan Rasulullah.
Wallahu a’lam.
—
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.







