Daerah

Belum Ada Perhatian, Pemukiman Baru OTD Tol Cisumdawu Kesulitan Air dan Listrik

FAJARNUSANTARA.COM, SUMEDANG – Orang Terkena Dampak (OTD) Tol Cisumdawu di Desa Cibeureuyeuh Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang, membutuhkan sejumlah fasilitas penunjang dalam membangun rumah baru mereka.

Saat ini, OTD yang sudah mendapat Uang Ganti Rugi (UGR) dari proyek nasional itu, mulai membangun rumah baru mereka di kawasan Kebon Kaler dan area pesawahan yang masih di desa tersebut. Hanya saja, proses membangun rumah, sedikit terhambat dengan kebutuhan air serta listrik.

Seperti dikatakan Jojong, yang kini mulai membuat pondasi rumah barunya. Ketersediaan air dan listrik sangat dibutuhkannya untuk membangun rumah barunya. Dirinya pun menyebutkan, bahwa dalam hal relokasi, warga melakukannya secara mandiri. Dalam hal ini, tidak ada perhatian dari pemerintah setempat.

Dalam proses membangun rumah barunya, Jojong pun memanfaatkan uang ganti rugi sebaik mungkin, agar rumahnya dapat segera selesai.

“Dicukup-cukup ya belum tentu cukup, ngebangunnya masih gini. Iya engga ada (perhatian dari desa). Sekarang juga air belum ada untuk membangun dan untuk kehidupan nanti,” katanya.

Hal sama juga dilakukan Ustad Hasanudin yang kini mulai membangun rumah serta pesantren miliknya di area pesawahan. Dalam hal ini juga, Ustad Hasanudin menyayangkan akan lambannya proses pembayarannya. Dia yang kini membangun pesantren, merasa tergesa-gesa.

“Sementara alat berat sudah ada di depan rumah kami, di depan pesantren kami. Tolong lah kalau bisa kepada pihak yang berwenang, agar berilah kami tenggang waktu, sampai kami bisa menempati tempat yang baru. Kasihan anak-anak santri, masyarakat. Jadi jangan sampai mereka itu, seperti terasa oleh saya itu stres seperti ini,” ujarnya.

Terkait uang ganti rugi, kata dia, jelas hal itu tidak akan cukup. Mengingat harga material untuk membangun rumah dan pesantren, ikut melonjang.

“Dulu membangun pesantren habis Rp.1,1 Miliar, sekarang diganti hanya Rp.1,7 Miliar. Sementara kalau dulu tenaga kerja hanya Rp.60 ribu per orang, sekarang Rp.150 ribu. Jadi dengan bayangan itu saja, jelas sepertinya, bila dilihat dari harga kebutuhan bangunan tidak akan cukup,” jelasnya.

Ustad Hasanudin menambahkan, saat ini dari pemerintah desa setempat juga ada perhatian. Yang tentunya, sebagaimana kapasitas dari desa itu sendiri. Namun untuk saat ini, pihaknya tengan membutuhkan sumber air dan juga listrik.

Dirinya pun sudah mengeluarkan modal Rp.3 juta hanya untuk membeli kabelnya saja. Dan untuk kedepannya, masih dipikirkan.

“Engga ada akses. Gak tahu harus kemana kami melangkah untuk mendapatkan listrik. Kami belum tahu, apakan kami harus mengajukan atau pemerintah harus mengajukan. Pemerintah desa umpamanya menyampaikan kendala kami yang ada di sini,” tambahnya.

Masih di tempat sama, Koordinatos relokasi OTD Tol Cisumdawu, Adon menyebutkan, kebutuhan utama yang saat ini diperlukan di lokasi pemukiman yang rencananya dinamakan Kampung Hegar Mandiri itu, berupa akses jalan, air besih dan juga listrik. Adapun akses jalan, dibuat warga secara gotong royong. Termasuk, membuat sumur bor sementara untuk kebutuhan air.

“Jalan ini hasil warga mandiri. Gotong royong setiap hari Jumat,” sebutnya.

Terkait adanya perhatian dari pemerintah setempat, Adon menyebutkan belum ada. Namun ada pun, hanya dari masing-masing perangkatnya, bukan atas nama desa.

“Dari atas nama desa belum ada. Namun sementara untuk kebutuhan seperti listrik dari warga masing-masing dulu. Tapi berikutnya, mungkin diajukan dari tokoh-tokoh yang ada di sini,” tutupnya. (**)

Back to top button