
FAJARNUSANTARA.COM – In Coffee di Desa Citali, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, mulai menunjukkan perannya sebagai ruang kreatif berbasis kuliner yang memadukan seni dan budaya. Meski pembangunan belum rampung, berbagai kegiatan telah digelar dan menyedot perhatian masyarakat.
In Coffee yang berlokasi di Pamulihan, Sumedang, perlahan menegaskan eksistensinya sebagai pusat aktivitas kreatif masyarakat. Tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai lokasi kuliner, tetapi juga dirancang menjadi ruang pertunjukan seni dan budaya yang terbuka bagi publik.
Pemilik In Coffee, H. Andriansyah, (Ijonk) mengatakan pihaknya tengah mengembangkan konsep ruang terpadu yang menghadirkan berbagai kegiatan seni dan hiburan secara rutin. Saat ini, kegiatan masih dalam tahap uji coba dengan frekuensi seminggu sekali.
“Ke depan, bukan hanya seni budaya, tapi juga musik tradisional maupun modern akan ditampilkan secara rutin. Saat ini masih tahap uji coba, seminggu sekali, nanti meningkat jadi dua kali, hingga targetnya bisa setiap hari. Termasuk juga kegiatan olahraga,” kata Andriansyah saat ditemui di lokasi, Minggu, 3 Mei 2026.
Meski pembangunan gedung belum selesai, sejumlah kegiatan telah berhasil diselenggarakan. Di antaranya festival calung dan pasanggiri jaipong tingkat Kabupaten Sumedang yang menarik partisipasi masyarakat luas.
Menurut Andriansyah, tingginya antusiasme publik menjadi indikator bahwa In Coffee memiliki potensi besar sebagai pusat kegiatan seni budaya di wilayah tersebut.
“Sekarang saja belum beres sudah ada festival calung dan pasanggiri jaipong tingkat Kabupaten Sumedang. Bisa dibayangkan kalau sudah selesai, tentu akan lebih ramai,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan berikutnya direncanakan berlangsung pada Juni 2026 melalui acara bertajuk “Hajat Lembur” sebagai bentuk syukuran pembangunan. Kegiatan akan diawali dengan jalan sehat “In Coffee Walker” yang dilengkapi pembagian doorprize.
Pada malam harinya, pengunjung akan disuguhi berbagai pertunjukan seni budaya, mulai dari tarian tradisional, musik, hingga pertunjukan vokal bernuansa lokal. Acara dikemas dalam konsep “Gebyar Hajat Lembur” yang melibatkan masyarakat setempat dan terbuka untuk umum.
Sebagai puncak acara, akan digelar pagelaran wayang golek yang menjadi daya tarik utama sekaligus simbol pelestarian budaya Sunda.
Dengan konsep tersebut, In Coffee diharapkan mampu menjadi ikon baru di Pamulihan yang tidak hanya menggerakkan sektor ekonomi kreatif, tetapi juga menghidupkan kembali seni budaya lokal serta memperkuat ruang interaksi lintas generasi.***







