Pengalaman, Bukan Guru Terbaik!

(Refleksi Hasil Penelitian Scaffolding Experiential Learning terhadap Mahasiswa PGSD Kampus UPI di Sumedang)
“We do not learn from experience… we learn from reflecting on experience ( Kita tidak belajar dari pengalaman. Kita belajar dari merefleksikan pengalaman).” – Dewey, 1933.
Refleksi adalah fitur utama dari pendidikan berbasis pengalaman dan berfungsi untuk memperkuat hubungan antara apa yang dialami siswa dan makna/pembelajaran yang mereka dapatkan dari pengalaman tersebut (Denton, 2011).
Refleksi bukanlah proses introspeksi yang dangkal. Melainkan, ini adalah proses pengembangan kapasitas berbasis bukti, integratif, analitis, yang berfungsi untuk menghasilkan, memperdalam, mengkritik, dan mendokumentasikan pembelajaran. Selain itu, pengembangan keterampilan reflektif merupakan inti dari pengembangan akademik dan profesional mahasiswa dalam suatu disiplin ilmu.
Menurut Schön (1983), refleksi adalah proses yang terus menerus dan berulang. Untuk mendukung pembelajaran siswa, penting untuk melakukan refleksi sebelum, selama, dan setelah pengalaman.
Sebelum: Refleksi pra-pengalaman mempersiapkan siswa untuk pengalaman tersebut dan memusatkan perhatian mereka pada ekspektasi, persepsi, asumsi, pengetahuan, dan pemahaman mereka sebelum pengalaman tersebut.
Hal ini dapat bertindak sebagai titik atau perbandingan atau garis dasar di mana siswa dapat membandingkan persepsi mereka selama dan setelah pengalaman.
Selama: Refleksi dalam tindakan mendukung siswa untuk secara eksplisit mempertimbangkan pengetahuan dan keterampilan tacit yang mereka gunakan untuk menavigasi pengalaman dan menarik perhatian mereka pada elemen-elemen penting dari pengalaman tersebut (baik internal maupun eksternal).
Refleksi ini mengharuskan siswa untuk membandingkan harapan mereka dengan realitas situasi untuk memecahkan masalah yang muncul.
Sesudah: Refleksi pasca-pengalaman mengharuskan siswa untuk memeriksa kembali dan mengevaluasi perubahan dalam persepsi, asumsi, pengetahuan, dan pemahaman mereka sehubungan dengan pengalaman tersebut.
Membandingkan refleksi ini dengan refleksi yang terjadi sebelum atau selama pengalaman tersebut akan sangat berdampak dan mendukung analisis yang mendalam.
Siswa dapat menganalisis pengalaman tersebut termasuk reaksi, perilaku, dan pendekatan mereka sendiri dalam retrospeksi, dan harus diminta untuk mempertimbangkan apa yang mereka harapkan/bagaimana mereka akan melakukan pendekatan terhadap pengalaman yang sama di masa depan.
Penelitian dilakukan untuk melihat bagaimana mahasiswa merefleksikan pengalamannya.
Penelitian dilakukan kepada 7 (tujuh) orang mahasiswa yang belum pernah melaksanakan tes Toefl sebelumnya. Tanpa pembuktian empiris, tidak dapat dipastikan pembelajaran apa yang terjadi atau makna apa yang mereka dapatkan dari pengalaman tersebut.
Penulis : Dr Diah Gusrayani, M.Pd
(Dosen Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia, Kampus UPI Sumedang)
Tulisan ini merupakan kiriman dari pembaca, isi di luar tanggung jawab redaksi.***







