Artikel

Romansa Kilau Bagaskara Sang Surya Muda Di Tengah Nestapa Desa

Oleh : Ridwan Marwansyah ( Ketua Umum PC IMM Sumedang )

Sinar sang surya begitu terasa, memberikan cerahnya kehidupan untuk umat, bangsa, dan agama demi mengusahakan terwujudnya Amar makruf nahi mungkar dan Islam yang sebenar-benarnya.
Ditengah indah desa gemerlap,sejuk angin dedaunan disana tertimbun beberapa sosok pemikir yang masih tertimbun jerami ketidaktahuan, perlahan sang suryapun mulai terbit untuk mulai menerangi, meski sulit untuk memulai hal yang tidak biasa menjadi bisa biasa akantetapi keyakinan yang teguh untuk menyampaikan hal yang benar dan meninggalkan yang salah sangatlah pasti.
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang yang beruntung” (QS Al Imran ayat 104)
Perbuatan syirik masih biasa dilakukan oleh sebagian kalangan tua di desa, karena hal tersebut merupakan kebiasaan yang diwariskan turun-temurun dari pendahulu yang dikemas dengan bahasa budaya, padahal syirik merupakan suatu perbuatan yang diniatkan dan dilaksanakan bukan sepenuhnya karena Allah atau mencampur keesaan dzat, perbuatan, dan sifat Allah dengan unsur-unsur lain, tentu saja syirik sangat bersebrangan dengan ajaran Islam.
Bagaimana peran sang surya muda melihat fenomena seperti demikian? Apakah ada satu keinginan untuk merubah kebiasaan syirik? Tentu harus.
Salahsatu nasihat untuk mengubah sesuatu yang sulit diubah akantetapi tidak menyinggung oranglain yaitu dengan memberikan contoh.
Ikhlas dalam berbuat dan meyakini bahwa setiap amal kebajikan yang dilakukan hanyalah semata-mata karena pertolongan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang beriman.
Yakin adanya balasan Allah juga meyakini bahwa setiap amal kebajikan yang dilakukan hanyalah Allah yang memberikan pujian dan balasan, kalaupun ada pujian dari manusia tidak lantas besar kepala dan mabuk kepayang dengan pujian itu, namun segera kembalikan kepada Allah.
Untuk menghindari perbuatan syirik kita bisa menghayati berbagai ciptaan Allah yang ada di alam semesta ini, bahkan diri kita sendiri pun bisa menjadi penghayatan tersendiri untuk menemukan kemahabesaran Allah, kemaha agungan Allah, dan sifat yang maha kuasa
Kita pasti ingat dengan kisah Muhammad Darwis muda yang mempunyai cara berfikir atau sudut pandang yang begitu rasional, berfikir rasional artinya kita berfikir secara benar dan tidak asal-asalan, orang yang berfikir dan menggunakan akalnya dengan benar akan memahami bahwa tidak ada lagi tuhan yang layak untuk disembah dan juga digantungkan tempat memohon pertolongan selain Allah, tanpa berfikir rasional biasanya manusia akan mudah tergelincir dan terjebak bisikan syetan atau hawa nafsu.
Dengan memberikan suatu contoh maka nasihat yang baik, itupun secara tidak langsung sudah tersampaikan perlahan namun pasti, samar terlihat namun terasa oleh umat.
Perlahan tumpukan jerami ketidaktahuan itu mulai terkikis waktu, termakan masa sehingga satu-persatu pemikir mulai terlihat dan terang bagai bagaskara, laksana sang surya muda yang siap menerangani dan memberikan lagi cahayanya untuk pemikir yang masih tertimbun jerami di desa.
“Sebuah tantangan untuk kaum muda di desa, berjuta harapan untuk membawa cahaya sang surya meskipun warna tak mungkin sama, karena ini dunia. Hanya harus berusaha dan berdoa untuk umat, bangsa dan agama, persyarikatanku pasti ada, itulah ungkapan sang surya muda di sebuah desa”

“Berjalanlah sesuai dengan Al Qur’an, jikalau keliru, mari kita betulkan dengan cara bijaksana” ( K.H. Abdul Rozak Fachruddin )

Dodi Partawijaya

Dodi Partawijaya aktif sebagai seorang jurnalis dimulai sejak berdirinya Fajar Nusantara. Selain aktif di dunia jurnalis, Dodi juga aktif di ormas kepemudaan Islam dan juga berbagai organisasi lainnya. Jaringannya yang luas, membuatnya mampu berkontribusi untuk memberika ide dan gagasan melalui tulisan di Fajar Nusantara.
Back to top button