
FAJARNUSANTARA.COM,- Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (BPPIKHL) bentuk Masyarakat Peduli di Taman Buru Masigit Kareumbi tepatnya Di kaki gunung karembi blok Patambon Desa Cimanggung Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang,
Kepala Badan Pengendalian Pencegahan Karhutla dan Hutan Lindung (BPPIKHL) JabalNusa, Haryo Pambudi, S. Hut., M.Sc., menyatakan bahwa pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) merupakan langkah penting dalam upaya mencegah dan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam proses pembentukan ini, MPA berhasil mengumpulkan data mengenai desa-desa rawan karhutla, yang didasarkan pada titik-titik yang sebelumnya pernah mengalami kejadian atau terpantau adanya titik api.
Pada pembentukan Masyarakat Peduli Api, terdapat dua hal utama yang akan disampaikan, yaitu teknik pencegahan dan pemadaman karhutla.
Sesi pertama akan dilakukan penyampaian teori, sementara sesi siang akan dilakukan praktek langsung untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut.
Setelah pembentukan, MPA juga akan melaksanakan kegiatan pembinaan, yang bertujuan untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekitar dan mendorong pengembangan potensi di kawasan Balai Besar Pak SBY, Jawa Barat.
Tahun ini, Indonesia menghadapi potensi karhutla yang meningkat akibat siklus El Nino. Pada tahun 2019, kita sudah mengalami siklus El Nino yang menyebabkan musim kering. Setelah itu, tahun 2020-2022 disebut sebagai siklus La Nina.
Prediksi untuk tahun 2023, siklus El Nino akan kembali terjadi, diperkirakan dimulai pada bulan Juli-Agustus.
Meskipun karakteristik siklus ini dapat berbeda-beda di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, namun secara umum, periode tersebut dianggap sebagai waktu yang kritis.
Dalam rangka menghadapi siklus El Nino, Masyarakat Peduli Api akan diajarkan cara memantau titik api atau yang biasa disebut hotspot.
Namun, perlu dicatat bahwa hotspot atau titik panas belum tentu berarti terdapat api yang berkobar. Oleh karena itu, upaya pencegahan dilakukan dengan memanfaatkan sistem monitoring bernama Sipongi.
Sistem ini akan memantau titik panas atau hotspot setiap hari, baik pada pagi maupun sore hari. Jika terdapat titik panas yang terdeteksi, anggota Masyarakat Peduli Api akan segera bergerak menuju desa terdekat untuk mengantisipasi agar kebakaran tidak meluas.
Data menunjukkan bahwa 90% kebakaran hutan disebabkan oleh faktor manusia. Oleh karena itu, pembentukan Masyarakat Peduli Api juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan.
Diharapkan MPA dapat menjadi agen yang efektif dalam menyebarkan pengetahuan ini secara luas di desa-desa rawan karhutla. Setiap anggota MPA diharapkan minimal dapat menjadi agen untuk menyebarluaskan informasi ini.
Untuk Titi rawan mita juga melihat berdasarkan historis lokasi yang pernah terjadi kebakaran lalu dianalisis tingkat kerawanan, jadi kalau secara total misalnya di tahun ini untuk jawa, bali, Nusa Tenggara kita memprioritaskan ada 190 desa rawan karhutla.
Yang paling besar titik apinya ada di NTT kemudian NTB kemudian Jatim, Jateng dan jabar ini. Bisa dibilang kalau secara nasionalnya hanya titik titik tertentu, misalnya di sini.
Namun, untuk di Jawa Barat yakni, di ciremai dan di kawasan Karembi, sehingga itu yang menjadi prioritas kami dari, tapi yang paling penting kekuatan penuh ada di masyarakat sekitar hutan, yang menjadi ujung tombak kami untuk melakukan pencegahan
Pada intinya MPA Karhutlah bisa mendeteksi sedini mungkin terjadinya titik panas agar tidak menjadi titik api yang menyebar, kami berharap dukungan peran serta masyarakat dalam antisipasi terjadinya titik api tersebut.****