DaerahKomunitasUncategorized

Dampak Sosial Pembangunan di Jatinangor, Antara Kemajuan dan Krisis Lingkungan

FAJARNUSANTARA.COM –Pembangunan pesat di Kecamatan Jatinangor membawa perubahan signifikan bagi masyarakat. Sebagai kawasan pendidikan yang telah dirancang sejak 1980-an, Jatinangor kini menjadi rumah bagi berbagai perguruan tinggi nasional seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Namun, di balik kemajuan tersebut, dampak sosial dan lingkungan mulai terasa di tengah masyarakat. 1 Maret 2025.

Pemerhati lingkungan Kecamatan Jatinangor, Sri Handayani, mengungkapkan bahwa pembangunan yang berlangsung selama beberapa dekade terakhir tidak hanya mengubah tatanan sosial, tetapi juga berkontribusi terhadap berbagai bencana lingkungan.

“Pembangunan di Jatinangor lebih berorientasi pada akumulasi kapital ekonomi tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan. Lihat saja proyek Tol Cisumdawu dan berbagai perumahan di lereng gunung, semua itu mempercepat degradasi lingkungan,” ujar Sri dalam sebuah diskusi yang digelar melalui Zoom.

Menurutnya, dampak nyata dari pembangunan ini adalah krisis lingkungan yang semakin parah, terlihat dari semakin seringnya bencana alam seperti banjir dan longsor di Jatinangor.

Baca Juga :  Satpol PP Sumedang Sita Ratusan Botol Miras di Empat Kecamatan

Salah satu penyebab utama adalah berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Data tahun 2015 mencatat bahwa luas RTH di Jatinangor hanya 146,5 hektare, jauh dari kebutuhan ideal 20% atau sekitar 227,3 hektare. Sayangnya, angka ini terus menurun akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan perumahan dan komersial.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Sri Handayani menekankan pentingnya sinergi antara masyarakat, mahasiswa, dan kaum urbanis. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain pemetaan daerah rawan bencana, sosialisasi dampak lingkungan, serta regulasi yang ketat dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).

Hal ini sejalan dengan arahan Presiden dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana 2023, yang menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, mitigasi berbasis tata ruang, serta alokasi anggaran daerah untuk penanggulangan bencana.

Baca Juga :  Jalan Mulus Terus Digenjot Dorong Aktivitas Warga Cimanggung, Tahun Depan Dilanjut

Atang Sutarno Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah memasang Early Warning System (EWS) di dua lokasi rawan longsor, yakni di Ciherang dan Anjung, Kecamatan Sumedang Selatan.

“Dengan alat ini, masyarakat bisa mendapat peringatan dini dan dapat bersiap menghadapi potensi bencana,” jelas perwakilan BPBD Sumedang.

Selain isu lingkungan, diskusi ini juga membahas perkembangan Jatinangor sebagai bagian dari Kawasan Perkotaan Jatinangor (KPJ) sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang No. 15 Tahun 2021. Pemerintah daerah kini berfokus pada peningkatan layanan publik melalui digitalisasi.

Lebih lanjut Sri menyampaikan bahwa, Program WiFi gratis yang baru saja diluncurkan menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan akses informasi bagi masyarakat, yang jiga merupakan program 100 hari kerja Bupati dan WakIl Bupati Sumedang.

“Smart City bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana masyarakat bisa merasakan manfaat nyata dari digitalisasi, seperti layanan publik yang lebih cepat dan transparan,” ujar Sri

Baca Juga :  Perkuat Soliditas Organisasi, FTBM Kabupaten Sumedang Gelar Rapat Koordinasi

Dikatakannya, Pemasangan WiFi gratis akan dimulai pada Maret 2025 di tiga titik utama, yaitu MPP Mini Sabusu Jatinangor, Lapangan Depan Kantor Kecamatan Jatinangor, dan UPTD Pendidikan Jatinangor. Program ini juga melibatkan sektor swasta dalam pendanaannya, sebagai bentuk kerja sama dalam membangun ekosistem digital di Sumedang.

“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat diharapkan dapat membawa Jatinangor menjadi City of Digital Knowledge, di mana teknologi tidak hanya meningkatkan efisiensi pelayanan publik, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan yang lebih ramah lingkungan,” tandasnya.

Dalam acara yang dihadiri oleh perwakilan Bappeda Sumedang, BPKSDM, Sekda Sumedang, camat dari lima kecamatan, akademisi, mahasiswa, serta pegiat lingkungan, kesadaran akan pentingnya pembangunan berkelanjutan menjadi isu utama yang dibahas.**

Enceng Syarif Hidayat

Enceng Syarif Hidayat adalah seorang jurnalis yang aktif liputan di Sumedang, Jawa Barat. Enceng mengawali karirnya di dunia jurnalistik dimedia lokal online Sumedang. Liputan utamanya di wilayah Barat Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button