Antisipasi Kenaikan Harga Kacang Kedelai, Pemilik Rumah Makan Sari Kedele Jatinangor Lakukan Ini!

FAJARNUSANTARA.COM, SUMEDANG – Owner Rumah Makan Tahu Sari Kedele Jatinangor H. Jarkasih mengaku bahwa kacang kedelai lokal yang ditanam di Sumedang, kandungan proteinnya lebih bagus dibandingkan kacang dari luar seperti Amerika, Brazil, Canada, dan Argentina.
“Untuk mengembangkan kacang kedelai lokal, saya sudah bekerjasama dengan petani di Kecamatan Surian, kita sebagai pengrajin tahu Sumedang oftekernya, dan akan panen sekitar akhir bulan Maret atau awal April,” ucapnya. Rabu (23/02).
Jarkasih mengaku, sekitar 400 hektare tanah kosong sudah disiapkan, namun yang baru tertanami oleh kelompok tani baru 30 hektare.
“Ini suatu pasar yang sangat besar, dimana dari informasi, kebutuhan kacang kedelai untuk tahu Sumedang dalam perbulan itu kurang lebih 600 ton. Karena kebutuhan banyak, sehingga diperkirakan hasil panen disana belum bisa memenuhi kebutuhan, tetapi minimal dari kebutuhan 600 ton, bisa terpenuhi 30 sampai 50 persen,” katanya.
Menurutnya, upaya tersebut dilakukan untuk mengatasi persoalan yang kerap terjadi dan dikeluhkan pengusaha tahu, seperti kenaikan harga kacang kedelai yang kian meroket tiap harinya. Solusinya dengan memberdayakan petani yang ada di Sumedang.
“Sebelum melakukan penanaman, sudah diplaning dari jauh-jauh hari, karena sebagai pengrajin tahu Sumedang khususnya sari kedele akan menggunakan branding kacang lokal yang bekerjasama dengan pihak Perguruan Tinggi Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor,” katanya
Pihaknya Unpad, kata ai, sudah mengeluarkan benih kacang kedelai, dari segi kualitas untuk tahunya sudah cocok, dari segi produksi sudah bagus dan maksimal, dan sudah dilakukan ujicoba.
“Diperlukan waktu sekitar 3 bulan untuk memanen kacang kedelai, sehingga dalam 1 tahun bisa 3 kali panen. Tetapi biasanya, petani tidak terus menerus menanam kacang, kerap diselang dengan tanaman padi,”
Ia berharap, Pemerintah Daerah (Pemda) ikut memberdayakan potensi yang ada dengan menyiapkan lahan-lahan yang masih kosong untuk dimaksimalkan dan dimanfaatkan.
“Pemerintah harus bangga dengan potensi yang ada, terutama tahu Sumedang, karena kalau berbicara tahu Sumedang pasti akan muncul kabupaten Sumedang,” tandasnya. (ESH).