
FAJARNUSANTARA.COM — Bencana alam berupa hujan deras disertai angin kencang menerjang Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Selasa sore, 16 Desember 2025. Peristiwa ini menyebabkan puluhan rumah warga di empat desa mengalami kerusakan, dengan dampak terparah terjadi di Desa Kutamandiri.
Camat Tanjungsari, Beni Satriaji, mengatakan sedikitnya 54 rumah warga terdampak angin puting beliung di Desa Kutamandiri. Selain desa tersebut, bencana juga melanda Desa Cinanjung, Margajaya, dan Jatisari.
“Kecamatan Tanjungsari ini ada empat desa yang terdampak. Namun yang paling banyak itu di Desa Kutamandiri. Dari hasil pendataan terakhir, ada 54 rumah warga yang terdampak angin puting beliung,” kata Beni saat meninjau lokasi, Rabu, 17 Desember 2025.
Beni menjelaskan, pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa langsung melakukan pemantauan kondisi warga pascabencana. Ia juga menyebutkan, jajaran TNI turut hadir untuk memastikan kondisi lapangan dan kebutuhan warga.
“Kami terus memonitor kondisi terakhir warga. Tadi juga Pak Dandim datang langsung melihat kondisi warga, meskipun tidak semuanya,” ujarnya.
Menurut Beni, pemerintah telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari BPBD, Baznas, Dinas Sosial, hingga PMI, untuk mempercepat penyaluran bantuan. Bantuan yang disiapkan meliputi sembako dan material bangunan, dengan prioritas bagi warga yang mengalami kerusakan paling parah.
“Bantuan tidak bisa diberikan untuk semuanya. Kami prioritaskan warga yang terdampaknya paling parah dan kondisi ekonominya memang layak dibantu,” kata dia.
Selain kerusakan rumah, bencana juga berdampak pada kelompok rentan, seperti lansia dan balita. Beni menyebut, kebutuhan bantuan bagi kelompok ini berbeda dan disesuaikan dengan hasil asesmen.
“Untuk lansia, kebutuhannya lebih ke makanan siap saji atau sembako. Sementara untuk keluarga yang punya balita, bantuannya bisa berupa susu atau kebutuhan lain yang sesuai,” ujarnya.
Beni juga mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi.
“Kami mohon warga menjaga diri dan keluarganya masing-masing. Perhatikan lingkungan, terutama pohon-pohon yang sudah tua atau posisinya membahayakan. Lebih baik diamankan sebelum tumbang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Kutamandiri, Agustina, mengatakan kondisi geografis wilayahnya yang bertopografi terasering turut memengaruhi potensi kebencanaan. Meski demikian, ia memastikan saluran air di desanya berfungsi dengan baik saat kejadian.
“Wilayah kami tidak rata, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Tapi kemarin saluran air berjalan dengan baik karena sudah dibersihkan. Hujan tidak jadi masalah besar, justru angin yang tidak bisa kami antisipasi,” ujar Agustina.
Ia menambahkan, mayoritas kerusakan terjadi pada bagian atap rumah warga yang terangkat dan terbawa angin. Ke depan, pihak desa akan memperkuat upaya mitigasi berbasis lingkungan.
“Kami akan fokus pada antisipasi pohon-pohon rawan tumbang dan menjaga saluran air, karena itu potensi pembawa bencana yang bisa kita cegah,” katanya.**







