KesehatanPemerintahan

Riset Efektifitas Peran TPK, BRIN Apresiasi Inisiatif BKKBN Jabar

FAJARNUSANTARA.COM – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengapresiasi rencana riset yang dilakukan oleh BKKBN Jawa Barat. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Nawawi, pada Jumat (19/4/2024) di Kantor Pusat BRIN, Jakarta.

Riset yang mengambil tema Peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) tersebut merupakan inisiatif Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat direncanakan menggandeng Pusat Riset Kependudukan BRIN untuk mengidentifikasi serta menganalisis efektivitas peran dan segala hal yang berkaitan dengan TPK.

“Sebenarnya inisiatif Jawa Barat ini akan sangat berkontribusi besar bagi percepatan penurunan stunting nasional,” ungkap Nawawi.

Tak hanya itu, Nawawi juga menyampaikan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjutinya dengan membentuk tim kajian stunting.

“Ini strategis, karena ini akan menjadi piloting kolaborasi antara BRIN dan BKKBN yang dikerjakan bersama. Nantinya di dalam tim yang akan dibentuk, tidak hanya peneliti dari kami saja, tapi juga dari BKKBN Jawa Barat bergabung dalam tim tersebut,” imbuhnya.

Adapun skema riset yang akan diajukan bersama yaitu melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), hasil kerjasama BRIN dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

RIIM ini merupakan skema perpaduan antara penelitian dan implementasi program yang dijalankan dalam jangka panjang, yaitu tiga tahun. Dengan dukungan pendanaan sekitar 500 juta sampai 1 Miliar setiap tahunnya. Sehingga ditargetkan pada pertengahan tahun ini proposalnya sudah jadi untuk diajukan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Fazar Supriadi Sentosa, yakin kolaborasi ini merupakan wujud nyata untuk percepatan penurunan stunting di Jawa Barat demi terciptanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang maju, unggul, dan berkualitas.

“Selain isu-isu yang tadi kita bahas bersama, kami juga sangat terbuka terhadap pengembangan dan pembaharuan ide yang dapat dilakukan dan melibatkan BRIN di Jawa Barat,” pungkas Fazar.

Sebagai informasi Pada tahun 2022, prevalensi stunting di Jawa Barat masih berada di angka 20,2%. Masih tersisa 6,2 % untuk mencapai target 14 % sebagaimana diamanatkan pemerintah pusat di akhir tahun 2024.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button