Seni Tradisi Kacapi Biola, Kadakajaya-Sumedang Masih Bertahan di Tengah Gempuran Musik Modern
FAJARNUSANTARA.COM— Seni tradisi kacapi biola yang ditampilkan oleh Lingkung Seni Tradisi Kacapi Biola Panakol dari Sanggar Ajisaka, Desa Kadakajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, masih bertahan meskipun diterpa derasnya arus musik modern.
Pertunjukan ini digelar pada Minggu, 1 Juni 2025, di Objek Wisata Kadaka Hil dalam rangka Grand Opening yang diselenggarakan di balai desa setempat.
Pagelaran ini menampilkan berbagai kesenian tradisional, dengan penampilan utama kelompok kacapi biola yang sudah aktif sejak Sanggar Ajisaka berdiri pada 2016.
Masyarakat lokal tampak antusias menyaksikan paduan merdu antara petikan kacapi dan gesekan biola yang mengiringi tembang-tembang Sunda klasik.
Abah Aka, sesepuh Lingkung Seni Tradisi Panakol sekaligus pimpinan Sanggar Ajisaka, mengatakan bahwa kacapi biola bukanlah hal baru di masyarakat Sunda, namun sempat mengalami pasang surut seiring perkembangan zaman.
“Sebenarnya seni kacapi biola ini sudah lama ada. Tapi perjalanannya memang naik turun. Berkat dorongan dari para orang tua yang masih ‘ngamumule’, akhirnya pada 2016 kami bentuk sanggar ini,” kata Abah Aka saat ditemui usai pertunjukan diacara Grand Opening Objek Wisata Kadaka Hil.
Menurut dia, Sanggar Ajisaka kini rutin tampil dalam berbagai acara adat seperti pernikahan, khitanan, hingga upacara adat lainnya. Meskipun dihadapkan dengan dominasi musik digital dan hiburan modern, semangat pelestarian tetap menyala.
“Alhamdulillah sampai sekarang kami masih bisa bertahan. Harapan saya, ke depan seni tradisi ini makin dicintai, khususnya oleh anak muda dan generasi Z,” ujarnya.
Kepala Desa Kadakajaya, Supendi, mengapresiasi keberadaan Sanggar Ajisaka yang dinilai turut menjaga identitas budaya lokal. Ia menyatakan pemerintah desa akan terus memberikan dukungan sesuai kemampuan yang ada.
“Kami sangat bersyukur karena seni tradisi masih bisa hidup di tengah masyarakat kami. Semoga sanggar seni ini semakin maju dan diminati oleh kaum muda,” kata Supendi.**







