Site icon Fajar Nusantara

Unwim dan Wakil Bupati Sumedang Satukan Tekad Selamatkan Petani Tembakau

Foto: Istimewa

FAJARNUSANTARA.COM- Turunnya harga tembakau mendorong Pemerintah Kabupaten Sumedang dan Universitas Winaya Mukti (Unwim) bersinergi memberikan solusi. Keduanya sepakat memperkuat sektor pertanian melalui pendidikan, inovasi, dan kebijakan berbasis realita lapangan.

Ratusan petani tembakau tampak antusias mengikuti Farmer Field Day Budidaya Tembakau di Kebun Unwim, Kampus Tanjungsari, Senin, 14 Juli 2025. Kegiatan yang diinisiasi Unwim ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila dan jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, serta menjadi forum temu ilmu antara petani, akademisi, dan pemerintah.

“Harga tembakau sedang anjlok. Ini tantangan besar, apalagi buat petani kecil. Tapi hari ini kita duduk bersama — akademisi, pemerintah, petani, pelaku usaha — untuk mencari solusi. Tidak cukup hanya mengeluh, kita perlu kerja nyata,” ujar Fajar dalam sambutannya.

Menurut Fajar, kegiatan ini menjadi penguat komitmen Sumedang sebagai salah satu sentra tembakau yang berdaya saing. Ia menegaskan pentingnya intervensi kebijakan dan pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) secara optimal, termasuk untuk pembangunan jalan dan infrastruktur pendukung.

“Doakan saja, sampai 2027 target kita adalah memperbaiki infrastruktur jalan kabupaten. Pajak dari pelaku usaha akan kita maksimalkan demi pertanian yang kuat,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Unwim, Eli Rismalia, menyatakan kebanggaannya atas keterlibatan Unwim dalam mendampingi petani secara langsung. Ia menyebut, pendidikan bukan hanya milik ruang kelas, tapi juga tumbuh dari interaksi dengan para pelaku lapangan.

“Kami akan jadikan lahan tujuh hektare ini sebagai show window tembakau. Setiap tahun, Unwim akan menanam bersama petani dan perangkat desa. Inilah bentuk kampus yang membumi,” tutur Eli.

Eli juga menyinggung pentingnya membangun kembali kepercayaan publik terhadap pendidikan pertanian. Ia menyampaikan, sebagai institusi pendidikan, Unwim siap mengemban peran membentuk generasi petani baru yang inovatif.

“Bangunan kami memang sudah tua, tapi semangat kami terus menyala. Kami tidak bisa seperti Sangkuriang membangun dalam semalam. Tapi kami yakin, sedikit demi sedikit, pertanian di Sumedang akan kuat kalau masyarakat dan pemerintah bergandengan tangan,” katanya.

Dalam waktu dekat, Unwim akan mengajukan dukungan pengembangan green house sebagai bagian dari transformasi pendidikan agribisnis di Sumedang. Eli juga mengajak para orang tua untuk mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di Fakultas Pertanian Unwim.

“Kalau bukan kita yang menjaga sejarah pertanian Indonesia, siapa lagi? Negeri agraris ini harus kita rawat. Kami di Unwim siap jadi bagian dari gerakan itu,” pungkasnya.**

Exit mobile version