FAJARNUSANTARA.COM – Pertunjukan kecapi suling oleh seniman muda lokal menjadi suguhan utama di Jatinangor National Golf & Resort (JNGR), Kabupaten Sumedang. Inisiatif ini tak hanya menghadirkan pengalaman menginap yang berbeda, tetapi juga membuka ruang ekspresi bagi pelaku seni sekaligus mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Jatinangor National Golf & Resort menghadirkan pertunjukan kecapi suling sebagai bagian dari pengalaman menginap bagi para tamu. Musik tradisional khas Sunda ini dimainkan oleh seniman muda berbakat asal Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Selama tiga hari berturut-turut, alunan kecapi suling mengisi ruang lobi hotel, menciptakan suasana yang menenangkan sekaligus menjadi penanda ritme waktu bagi para pengunjung.
Pertunjukan ini menarik perhatian, terutama bagi tamu mancanegara yang mencari pengalaman budaya otentik selama berada di Sumedang.
Manajemen JNGR menjadikan kecapi suling sebagai pertunjukan utama yang melekat dalam konsep hospitality mereka. Selain menikmati panorama alam, tamu juga diajak merasakan nilai budaya lokal yang kental melalui musik tradisional.
General Manager Golf Club JNGR, Hadi Aji Subarkah, mengatakan program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadirkan pengalaman berbasis budaya.
“Inisiatif ini mencerminkan filosofi hospitality yang berfokus pada nilai pengalaman, relevansi budaya, dan positioning jangka panjang. Musik tradisional Sumedang menjadi simbol harmoni antara tradisi, spiritualitas, dan hospitality berkelas,” ujar Hadi.
Di sisi lain, Founder Jatinangor Creative Community sekaligus Wakil Ketua Umum Paguyuban Seniman Budaya Sumedang, Sri Handayani, menyoroti masih terbatasnya ruang ekspresi bagi seniman lokal.
“Jatinangor itu tidak punya banyak ruang untuk berkreasi. Kita punya gedung kesenian, tapi belum cukup leluasa untuk momen tertentu. Ruang berkreasi kita masih terbatas,” kata perempuan yang akrab disapa Teh Nci.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pelaku seni dan sektor pariwisata menjadi langkah strategis untuk mengangkat potensi lokal.
“Kita ingin bukan hanya hotel ini, tapi seluruh sektor seperti restoran, kafe, hingga penginapan di Sumedang bisa memberi ruang. Seni adalah ‘ruh’, dan kolaborasi adalah ‘tubuh’ yang akan menggerakkan ekonomi ke level internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Paguyuban Seniman Budaya Sumedang, Dede Suhendar, menilai pertunjukan ini sebagai upaya memperluas makna seni tradisional.
“Kita tidak ingin seni ini hanya jadi simbol budaya. Kita ingin tampil dengan kolaborasi yang lebih luas, bahkan bertaraf nasional dan internasional,” kata dia.
Menurut Dede, keterlibatan berbagai pihak seperti pengusaha hotel, pemerintah, dan komunitas seni sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.
“Kalau seniman diberi ruang, kesenian Sumedang akan lebih berkembang. Kita ingin seni ini hadir di berbagai ruang, tidak harus selalu di panggung besar,” ujarnya.
Ia optimistis, dengan kolaborasi lintas sektor, kesenian Sumedang dapat naik kelas dan menjadi daya tarik wisata unggulan.
“Sumedang kaya akan seni budaya. Tinggal bagaimana kita bersama-sama memberi ruang dan membawa kesenian ini ke level internasional,” kata Dede.**
