FAJARNUSANTARA.COM – Menanggapi acara sarasehan budaya yang diselenggarakan hari ini di Gedung Negara, kami dari Gelap Nyawang Nusantara (GNN) menyampaikan dukungan dan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai ikhtiar merawat budaya dan kesadaran ekologis di Kabupaten Sumedang.
Namun demikian, Asep Riyadi selaku pembina GNN mengatakan kami juga menyampaikan catatan keprihatinan (katugenah). Dalam pemaparan terkait fakta kewilayahan, Sumedang kerap direduksi hanya pada keberadaan Sungai Cimanuk dan Sungai Cipunagara sebagai sungai induk. Padahal, Sungai Cipeles dan Sungai Cilutung memiliki peran yang sangat fundamental dan tidak dapat dikesampingkan.
Dua sungai tersebut sejatinya membelah sebagian besar wilayah permukiman Sumedang sejak masa lampau hingga hari ini. Jejak peradaban Sumedang—baik dulu maupun sekarang—tumbuh dan berkembang di sepanjang bentang wilayah DAS Cipeles dan Cilutung. Karena itu, mengabaikan keduanya sama dengan mengaburkan fakta historis, ekologis, dan sosiokultural Sumedang.
Lebih jauh, wilayah sekitar bentangan Sungai Cipeles dan Cilutung justru menjadi pekerjaan rumah besar Kabupaten Sumedang akibat kerusakan tata ruang yang terjadi secara masif dan berlangsung lama. Penyimpangan pemanfaatan ruang dan pola ruang di kawasan tersebut telah melahirkan beragam persoalan lingkungan yang nyata dan mendesak.
Kami berharap ke depan dapat diselenggarakan sarasehan yang lebih fokus dan substantif, khususnya menyangkut mitigasi risiko ekologis yang benar-benar terjadi di Sumedang. Pendekatan yang digunakan perlu melihat Sumedang secara utuh, berdasarkan kesatuan wilayah DAS Cimanuk, Cipeles–Cilutung, dan Cipunagara, agar pengelolaan alam lingkungan—lemah cai na—dapat dikendalikan dan dipulihkan, meskipun telah tergerus oleh berbagai bentuk perusakan dan penyimpangan tata ruang.
Gelap Nyawang Nusantara akan senantiasa mendukung setiap upaya yang mengarah pada perbaikan dan kebaikan Sumedang secara menyeluruh dan berkelanjutan.**
