FAJARNUSANTARA.COM – Tradisi Rajaban dan Haol masih menjadi ruang penting bagi masyarakat pedesaan untuk merawat nilai keagamaan, solidaritas sosial, dan penghormatan terhadap leluhur. Sabtu Malam Minggu 10 Januari 2026.
Hal itu tampak dalam peringatan Rajaban dan Haol Keluarga Besar Kang Agus dan Teh Elin yang digelar di Kampung Manco, Desa Citali, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Acara tersebut menghadirkan Uyut Hanjuang Beureum dan Ustad Fuad Burhan Ginan Burhanudin, serta dihadiri ratusan mustami dari berbagai wilayah.
Warga berbondong-bondong memadati area acara. Sejumlah pejabat setempat hadir, mulai dari unsur RT, RW, hingga Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Panitia menyiapkan area khusus bagi mustami, termasuk lokasi konsumsi yang dikelola warga sekitar.
Kehadiran Uyut Hanjuang Beureum menjadi magnet utama. Sosok ulama kharismatik ini dikenal luas karena pendekatan dakwahnya yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Setiap kali tampil, Uyut kerap membagikan sedekah kepada mustami, terutama janda, anak yatim piatu, serta jamaah lanjut usia.
“Ngaji ulah ngan ukur ngadenge, tapi kudu karasa dina lampah sapopoe,” ujar Uyut Hanjuang Beureum dalam tausiahya.
Dalam ceramahnya, Uyut Hanjuang Beureum menekankan pentingnya menjaga lisan dan membersihkan hati dari sifat iri, dengki, dan prasangka buruk. Ia secara khusus menyoroti etika dalam rumah tangga.
“Jaga omongan urang, ulah nepi ka nyerikeun hate batur. Utamana ka salaki. Istri kudu satia, patuh, jeung ulah ngawangkong goreng di tukangeun, komo deui di status WhatsApp,” kata Uyut.
Menurut dia, keharmonisan keluarga berawal dari kesediaan masing-masing pihak menjaga sikap dan tutur kata. Ia menilai perkembangan media sosial sering kali menjadi pemicu konflik rumah tangga jika tidak digunakan dengan bijak.
Selain Uyut Hanjuang Beureum, acara juga diisi tausiah oleh Ustad Fuad Burhan Ginan Burhanudin. Ustad Fuad menitikberatkan pentingnya ketaatan seorang anak kepada orang tua.
“Amaliah anak ka kolotna moal kungsi pegat, sanajan kolot geus teu aya. Doa jeung bakti anak tetep ngalir salalawasna,” ujar Ustad Fuad di hadapan para mustami.
Ia menjelaskan, Rajaban dan Haol bukan sekadar seremoni, tetapi momentum refleksi bagi keluarga untuk memperkuat hubungan spiritual dan sosial antar generasi.
Rajaban dan Haol di Kampung Manco tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga ruang konsolidasi sosial masyarakat.
Melalui tausiah, sedekah, dan kebersamaan, kegiatan ini menegaskan bahwa tradisi lokal masih relevan sebagai sarana pendidikan moral, penguatan keluarga, dan perekat sosial di tengah perubahan zaman.**
