Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat telah melakukan Asesmen Cepat Bencana Alam Banjir Bandang di Desa Citengah dan Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang pada Hari Kamis, 5 Mei 2022, dengan metode Observasi dan Wawancara.
Adapun hasil laporannya seperti yang disusun oleh Direktur Eksekutif WALHI Jabar, Meiki W Paendong, menyebutkan kejadian banjir bandang di Desa Citengah dan Desa Cipancar terjadi akibat aliran Sungai Cihonje yang meluap. Luapan Sungai Cihonje terjadi setelah mendapat kiriman air dari 2 sungai sedang, yaitu Sungai Citengah dan Sungai Citundun (penamaan warga). Selain ada 2 sungai kecil yang bermuara ke Sungai Citengah.
“Volume air Sungai Citengah dan Sungai Citundun sudah mengalami penambahan debit air lebih besar dari kondisi alami sebelum masuk ke Sungai Cihonje,” kata Meiki.
Salah satu buktinya, ia menambahkan, area dalam aula kantor Desa Citengah terkena luapan air Sungai Citengah. Sedangkan posisi kantor Desa Citengah berada cukup jauh dari aliran Sungai Cihonje.
Sementara itu, menurutnya, sarana Wisata di Sepadan Sungai permasalahan banjir bandang selalu mengarah pada dugaan adanya alih fungsi lahan di kawasan hulu.
Namun dari hasil observasi tidak ditemukan alih fungsi lahan menjadi
kawasan terbangun permanen skala besar dan luas di kawasan hulu yang terindikasi menghasilkan air larian atau run off dengan volume besar ke sungai yang mengalir ke Desa Citengah dan Desa Cipancar. TB Gunung Kareumbi dan Perkebunan Margawindu
masih sangat baik sebagai daerah tangkapan air (water catchment area).
“Secara umum, baik di kawasan hulu sungai dan kawasan sekitar lokasi kejadian banjir bandang masih memiliki kemampuan sebagai kawasan tangkapan air. Hal tersebut dibuktikan dari vegetasi hutan primer heterogen Taman Buru Gunung Kareumbi di sisi selatan dan timur lokasi banjir bandang yang masih sangat lebat,” tuturnya
Adapun, ia menjelaskan, karakterisitk kontur kawasan hutan Gunung Kareumbi adalah gabungan dari landai dan curam.
Kawasan hutan Gunung Kareumbi merupakan bagian dari hamparan Daerah Aliran Sungai ( DAS ) Cimanuk.
“Sementara di kawasan perkebunan teh Margawindu juga masih cukup baik,” tutur Meiki.
Hal tersebut menurutnya, ditandai oleh dominasi tanaman teh dan pohon kayu. Adapun bangunan fisik yang difungsikan
untuk sarana wisata yang dikelola oleh rakyat setempat tersebar secara acak dan tidak mendominasi lanskap perkebunan.
“Jika dipersentasekan, perbandingan seluruh luas lahan yang dimanfaatkan untuk kegiatan wisata tidak mencapai 1% dari total luas area perkebunan,” katanya.
Dengan begitu, menurutnya, perkebunan Margawindu secara ekologi tidak banyak menghasilkan run off atau air larian yang masuk ke sungai saat turun hujan.
Akan tetapi, Meiki menjelaskan, salah satu yang menjadi perhatian justru adalah sarana wisata yang terbangun di sepadan sungai.
“Dari hasil observasi ada sekitar 9–10 tempat wisata yang berada persis
di sepadan Sungai Cihonje dan Sungai Citengah. Termasuk sarana wisata tempat 18 wisatawan terjebak di dalamnya karena terkepung aliran Sungai Cihonje saat banjir bandang,” katanya.
Begitupun, kata Meiki, sarana terbangun kegiatan usaha dan tempat bermukim di sepadan sungai sangat rentan. Mengingat karakterisktik sungai memiliki daya rusak saat meluap.
