.FAJARNUSANTARA.COM— Puluhan petani tembakau di wilayah sentra Jatigede dan Tomo mengatakan program bantuan domba dari anggaran DBHCHT memberikan dampak signifikan pada keberlanjutan usaha mereka. Para petani menyebut bantuan itu bukan hanya menambah sumber penghasilan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi di luar musim tanam.
Ketua Kelompok Tani Tembakau Cibeusi, Dedi, menuturkan populasi domba bantuan yang diterima kelompoknya berkembang pesat.
“Awalnya kami hanya menerima belasan ekor. Alhamdulillah sekarang sudah berkembang biak menjadi puluhan. Ini sangat membantu, terutama di luar musim tanam tembakau,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani Tembakau Sri Mandiri, Anung, yang menyebut kehadiran ternak memberikan jaring pengaman ekonomi ketika panen tembakau tidak stabil.
“Kadang panen tembakau tidak stabil, tergantung cuaca. Dengan adanya domba, kami punya cadangan pendapatan. Kalau butuh biaya mendesak, kami bisa menjual hasil pengembangbiakannya,” tuturnya. Sabtu 22 November 2025.
Ketua UPTD Perikanan dan Peternakan Wilayah Tomo, Ujungjaya, dan Jatigede, Dedi Darmawan, S.Pt., menjelaskan pemilihan domba sebagai komoditas bantuan merupakan hasil kesepakatan pemerintah daerah dengan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI).
“Domba dipilih karena harganya relatif terjangkau sehingga anggaran DBHCHT bisa dialokasikan untuk lebih banyak penerima. Semakin banyak petani yang menerima manfaat, semakin besar dampak pemberdayaannya,” katanya.
Ia menambahkan, domba memiliki siklus reproduksi cepat sehingga populasinya bertambah dalam waktu singkat.
“Kalau populasinya berkembang, otomatis petani bisa memperoleh pendapatan lebih dari hasil ternak, bukan hanya dari komoditas tembakau,” ujarnya.
Selain memberikan sumber pendapatan baru, ternak domba juga membantu meningkatkan kualitas budidaya tembakau.
Menurut Dedi, kotoran domba menjadi pupuk organik yang dibutuhkan untuk menjaga kesuburan tanah.
“Pupuk organik dari kotoran domba membuat kualitas daun tembakau lebih baik dibanding jika hanya mengandalkan pupuk kimia,” jelasnya.
Para petani kini menjalankan dua aktivitas produktif sekaligus: merawat tanaman tembakau dan memelihara domba, yang saling menguatkan satu sama lain.
“Dua sektor ini saling mendukung. Petani mendapat nilai tambah dari ternak, dan kualitas tembakau pun ikut meningkat,” tambah Dedi.
Program bantuan ternak berbasis DBHCHT ini diharapkan terus berlanjut mengingat manfaatnya yang nyata dalam meningkatkan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan petani tembakau di Sumedang. ***
