FAJARNUSANTARA.COM- Pengembang Perumahan Senopati Jatinangor Hill yang berada di bawah naungan PT. TMM, bertemu dengan Empat Rukun Warga (RW) Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang bahas dampak lingkungan dari Perumahan tersebut.
Perumahan ini direncanakan akan dibangun di Kaki Gunung Geulis, Desa Jatiroke, seluas 5 Hektare dengan rencana jumlah rumah sebanyak 450 unit. Jumat 20 Oktober 2023.
Asep Wawan, seorang warga yang juga menjabat sebagai Ketua LPM Desa Jatiroke, menyatakan bahwa warga pada dasarnya mendukung kedatangan investor ke wilayah mereka, asalkan pengembang memperhatikan dampak lingkungan.
“Dengan harapan agar pembangunan ini tidak mengulangi kesalahan yang sering terjadi, di mana pembangunan perumahan seringkali berdampak negatif pada lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Warga Desa Jatiroke mengemukakan kekhawatiran mereka terkait dampak potensial seperti tanah longsor dan banjir, oleh karena itu infrastruktur penahan longsor dan sistem drainase yang baik dibangun di daerah tersebut.
Selain itu, warga juga mengharapkan adanya pembangunan bronjong sebagai perlindungan terhadap longsor serta perbaikan jalan
“Selain mengantisipasi banjir dan kekeringan selama musim kemarau, perwakilan warga juga meminta pengembang untuk membatasi jam operasional alat berat hingga pukul 4 sore,” katanya.
Sementara itu, Ketua RW 02 Cucu juga menyuarakan permintaan agar perumahan tersebut menyediakan pemakaman khusus bagi warga yang meninggal dunia.
“Saat ini, pemakaman yang ada hanya untuk warga Desa Jatiroke, sehingga warga pendatang perlu memiliki lahan pemakaman tersendiri, selain itu, warga menginginkan agar pembangunan jalan pasca-pembangunan perumahan diaspal dan dihotmix,” katanya.
Pihak pengembang, yang diwakili oleh H. Dadang Barzaeni menyatakan bahwa keterbukaan terhadap semua masukan dan permintaan masyarakat, terutama yang terdekat dengan proyek perumahan.
“Kami, telah menjalani proses perencanaan selama dua tahun, termasuk mendapatkan izin pembangunan, persetujuan gedung, serta izin dari pemerintah Desa dan masyarakat setempat,” urainya.
H.Dadang menegaskan bahwa segala persyaratan, termasuk fasilitas sosial, fasilitas umum, ruang terbuka hijau, dan pemakaman khusus, sudah termasuk dalam perencanaan mereka, bahkan sebelum izin bangunan diberikan.
“Perlu diketahui juga bahwa proses pembangunan perumahan memang memerlukan waktu yang lama agar dapat memberikan manfaat positif bagi masyarakat,” imbuhnya.
H. Dadan menunjukkan komitmen pengembang untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat, seperti peningkatan nilai tanah dan manfaat ekonomi bagi warga setempat.
“Perumahan ini sebagai konsep hunian yang ramah lingkungan dengan alokasi luas lahan untuk ruang terbuka hijau dan fasilitas sosial-umum, jadi dari lima hektar tersebut kita bagi dua,” katanya.
“Kami, mengintegrasikan perumahan ini dengan program Desa Jatiroke dan Forum Pecinta Gunung Geulis, diantaranya yang sedang berkembang sebagai destinasi wisata alam serta agro Foresty,” katanya.
Kendati demikian, ia melanjutkan bahwa, Dalam upaya mengelola sampah, pengembang akan bekerjasama dengan Forum Petani Gunung Geulis untuk menghindari pembuangan sampah ke luar.
Selain itu, mereka juga berkomitmen untuk melaksanakan program penghijauan dan perlindungan lingkungan seiring dengan tahap pembangunan perumahan.
Dengan demikian, meskipun warga menyuarakan kekhawatiran mereka terkait dampak pembangunan, pengembang akan mengikuti semua aturan yang berlaku dan berusaha untuk memberikan manfaat positif bagi masyarakat setempat melalui proyek perumahan ini.
Terakhir Ketua Forum Pecinta Gunung Geulis Saefudin mengatakan bahwa Alhamdulillah pihak pengembang sudah mengakomodir apa saja diinginkan warga masyarakat termasuk saran-saran dari forum gunung geulis.
“Bahwa untuk melaksanakan kegiatan perumahan sudah dipersiapkan seperti pembuatan embung begitu juga pembuatan pembuatan sumur-sumur resapan,” urainya.
Saefudin menuturkan pihak pengembang juga menyerahkan lahannya sebagian untuk dikelola sebagai ruang terbuka hijau, dimana ruang terbuka hijau tersebut bisa jadi sebagai edukasi wisata agro Foresty.
Hal itu una dijadikan Daya tersendiri bagi para konsumen jika perumahan ini dibelakangnya ada Desa Wisata (Dewa) yakni Desa Edukasi Wisata Agro Foresti.
“Ini adalah langkah yang baik diambil oleh pengembang perumahan yang selalu komunikasi dengan masyarakat,.semoga kedepannya lancar dan lebih baik lagi,” pungkasnya.**
