FAJARNUSANTARA.COM- Yayasan Lingkar Santri Nusantara (LSN) menggelar rapat mendadak pada Kamis, 20 November 2025, setelah muncul gelombang protes dari para ketua RT, guru ngaji, dan pimpinan pesantren terkait janji politik Bupati Cianjur yang dinilai tak kunjung direalisasikan. Rapat tersebut berlangsung secara serentak melalui koordinasi seluruh pengurus cabang LSN di Jawa Barat.
Ketua Umum Yayasan Lingkar Santri Nusantara, Dede Abdul Kholiq, menilai janji politik Bupati Cianjur soal insentif guru ngaji, dana RT sebesar Rp25 juta per tahun, hingga dana Rp300 juta untuk tiap lembaga atau pesantren hanya dijadikan alat menggaet suara saat kampanye.
“Kami melihat janji itu hanya dikomoditi untuk meraih suara pesantren dan jejaringnya demi kemenangan politik. Sampai hari ini tak ada realisasi yang signifikan,” kata Dede saat dihubungi usai rapat. Kamis 20 Agustus 2025.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan Kabupaten Bandung yang sudah merealisasikan insentif guru ngaji sejak 2022. Program itu, menurut Dede, telah mengucurkan Rp109 miliar setiap tahun untuk sekitar 17 ribu guru ngaji.
“Ini bukti bahwa politik bisa dijalankan dengan etika. Bandung mampu, lalu kenapa Cianjur tidak?” ujarnya.
Hasil rapat mendadak itu menyatakan bahwa seluruh pengurus LSN di Jawa Barat sepakat untuk mengerahkan ribuan santri dan guru ngaji. Mereka menyatakan kesiapan turun ke jalan untuk mendukung rekan-rekan di Cianjur dalam aksi demonstrasi besar-besaran.
Di sisi lain, dukungan juga datang dari Imam Hidayat, Ketua Umum DPW Forum Komunikasi Santri Jawa Barat (FOKSI). Imam menyebut Bupati dan Wakil Bupati Cianjur telah memperlakukan suara pesantren, guru ngaji, dan tokoh RT sebagai objek kepentingan politik semata.
“Kami kecewa. Komunitas santri hanya diperlakukan sebagai alat politik. Karena itu, kami siap mengerahkan ribuan santri untuk mendampingi aksi di Cianjur,” ujar Imam.**
