FAJARNUSANTARA.COM, GARUT – Tukang sol sepatu adalah salah satu pekerjaan yang sekarang sudah mulai berkurang peminatnya, karena kecenderungan masyarakat jika mempunyai sepatu atau sandal apabila rusak langsung dibuang saja.
Seperti halnya yang dialami Surman (54), pria asal Kampung Sadang Gentong Desa Kalangsari Kecamatan Lewigoong Kabupaten Garut, sudah hampir 20 tahun sejak tahun 1998, menggeluti usaha dibidang jasa sol sepatu.
Sarman menceritakan, dalam menggeluti usaha jasa sol sepatunya itu, setiap hari ia harus berkeliling kepemukiman warga, menawarkan jasanya.
“Saya pernah kerja di salah satu perusahan di Jakarta, namun semenjak moneter, saya keluar dari pabrik dan tidak ada kerjaan yang lain, akhirnya memilih menjadi tukang sol sepatu, Alhamdulillah, meski penghasilan tidak seberapa setidaknya bisa menghidupi istri dan anak-anak dirumah,” ucapnya.
Ia mengaku, setiap hari rutin berjalan mengelilingi wilayah di Kecamatan Leles dan Leuwi Goong, terkadang dalam satu hari bisa mendapatkan uang Rp100 ribu tapi terkadang dalam satu hari tidak pernah mendapatkan uang sama sekali.
“Selama menjadi tukang sol sepatu, pengalan yang paling senang, ketika ada yang menyuruh ngesol sepatu atau sandal, suka dikasih kopi dan makanan yang lainya, warga kampung itu semuanya baik-baik dan menjadi banyak saudara,” katanya.
Sementara itu, lanjut ia, selama ini ia kerap mendapatkan bantuan dari pemerintah yakni BPNT, namun dengan bekerja seperti ini juga Alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga dan anak anak sampai pada berkeluarga. (ESH).
