FAJARNUSANTARA.COM,SUMEDANG,- Fenoma Banjir dimana-mana semakin meluas di Kabupaten Sumedang, sejumlah wilayah diekepung banjir bahkan ada juga banjir bandang dan longsor diwilayah Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang. Selasa 20 Desember 2022.
Kejadian ini menjadi sorotan utama Yayasan Incu Buyut Peduli Djatinangor (Ibu Djati) dan Gelap Nyawang Nusantara (GNN) karena ketika memasuki musim penghujan maka akan bermunculan yang berjudul “Langganan” hal itu sudah menjadi lumrah ketika banjir melanda suatu wilayah.
Fenoma banjir dimana-mana, bukannya tanpa Solusi tapi dari dulu sudah sering dibahas baik oleh wakil rakyat maupun pemerintah, namun sampai saat ini yang saya ketahui tidak pernah selesai juga, bahkan banjir sampai meluas bukannya berkurang,” ujar Ketua Yayasan Incu Buyut Peduli Djatinangor (Ibu Djati)
Dikatakannya, jangan jauh jauh kita kasih contoh Jatinangor, dalam perkembangannya dari masa ke masa, banjir hanya terjadi di dua desa saja kalau tidak cikeruh ya desa Sayang.
Tapi entah kenapa, dari tahun ke tahun bukannya selesai masalah banjir di dua desa tersebut tapi, malah semakin meluas ke desa yang lainya, jelas, kami sangat tidak mengerti hal itu bisa terjadi
Dadang Bendo sapaan akrab sehari-harinya menyampaikan, yang kami tahu dari dulu yakni, bagaimana kita bisa menghijaukan wilayah tandus di sekitar kita, karena yang kita tahu jika alam rusak maka kita akan hancur, sayangi alam kita dengan cara menghijaukan lahan lahan yang tandus dan hutan hutan yang gundul.
Gerakan penghijauan ini sudah lama kami jalankan, dengan tema Nata Alam Ku Budaya Melak Tangkal, jadi kita terus terusan memberikan contoh terhadap masyarakat dan pemerintah dalam hal menamam pohon selanjutnya di rawat “Tong Cul Jeun”(Dibiarkan).
“Setelah banyak kejadian banjir dan longsor diwilayah kita, itu adalah peringatan yang sering kita abaikan sehingga kejadian bencana dimana mana, karena sejauh ini hanya obrolan dan wacana saja sementara “prak prakanna euweuh” (Prakteknya) tidak ada,” tandas Mang Bendo didampingi Asep Riyadi Pembina GNN dan Ibu Djati.
Kendati demikian, Jika kita terus terus menanam pohon dari dulu dilakukan, maka, hari ini mungkin pohon sudah pada besar, tapi tidak menyurutkam tekad kami untuk berjuang terus menghijaukan hutan dan lahan disekitar kita setidaknya jika bukan untuk kita bisa dirasakan oleh anak cucu kita, kami Ibu Djati Dan Gelap Nyawang Nusantara akan terus konsisten menjaga alam kita.
“Getih Sunda anu ngalir” (Darah Asli Sunda yang mengalir) akan terus mengalir dalam diri demi Bangsa dan Negara “Nata Alam Ku Budaya Melak Tangkal” Sunda Nanjeur Sunda Ngajomantara, mari kita gelorakan menanam pohon supaya tidak ada lagi banjir dan longsor di masa Depan,” tegas Mang Dadang Bendo Penuh Harap
Sementara itu menurut Pembina Gelap Nyawang Nusantara Asep Riyadi mengatakan, pada intinya pemerintah jangan mudah membebaskan lahan daripada menunggu bencana lalui mendanai proyek bencana tersebut itu sangat miris jika terjadi.
Pada intinya, kita jangan mau jadi bagian rezim pengundang bencana, karena bencana ini terjadi diundang, contohnya sepadan sungai yang harus di kosongkan dari segala bentuk pemanfaatan lahan,
Dengan tegas Asep Riyadi menyampaikan, ketentuannya sudah jelas tertuang dalam Undang-undang dan Peraturan Pemerintah dan aturan yang lainya,
“Karena jika banjir bandang terjadi ataupun bencana yang lainya melewati sungai tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, itulah yang harus kita pahami bersama jika semuanya ada aturan, tapi ko masih banyak pelanggaran,” pungkasnya.***
