Site icon Fajar Nusantara

Banjir Jatinangor Dibedah Bersama, Desa–Pengusaha Sepakat Bertindak

Camat Jatinangor dan Tiga Kepala Desa serta Pengusaha monitor sejumlah Titik yang dianggap Penyebab Banjir, (Foto: Istimewa)

FAJARNUSANTARA.COM – Upaya penanggulangan banjir di Kecamatan Jatinangor memasuki tahap konkret. Tiga kepala desa bersama Camat Jatinangor turun langsung ke lapangan untuk mengecek titik-titik krusial penyebab banjir, sebagai tindak lanjut hasil pertemuan awal yang digelar pada Kamis, 6 Januari 2026.

Banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Jatinangor dinilai tidak hanya dipicu tingginya curah hujan, tetapi juga menyempitnya saluran air dan tersumbatnya drainase. Sejak Oktober 2025, intensitas hujan meningkat signifikan, sementara kondisi infrastruktur drainase tidak lagi memadai menampung debit air.

Situasi tersebut mendorong Pemerintah Kecamatan Jatinangor bersama pemerintah desa dan pelaku usaha untuk menyepakati langkah kolaboratif guna menelusuri titik utama penyebab banjir dan merumuskan solusi bersama.

Camat Jatinangor Herman Suwandi mendampingi langsung Kepala Desa Cibeusi, Cipacing, dan Sayang dalam pengecekan lapangan. Rombongan menyusuri sejumlah titik yang selama ini diduga menjadi pemicu utama banjir, terutama di kawasan pemukiman padat dan lingkungan usaha kos-kosan.

“Hari ini adalah salah satu contoh kerja sama yang baik. Pemerintah desa dan para pengusaha bersatu untuk menangani permasalahan banjir di Jatinangor,” kata Herman Suwandi saat ditemui di sela kegiatan.

Menurut Herman, persoalan banjir tidak bisa diselesaikan dengan saling menyalahkan. Ia menegaskan pentingnya kesadaran kolektif untuk menjaga dan memperbaiki saluran air yang mengalami penyempitan.

“Kita tahu sejak Oktober curah hujan sangat tinggi, sementara saluran air semakin mengecil. Kalau tersumbat sampah, air pasti meluap. Ini tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh pihak telah sepakat untuk memperbaiki dan memperbesar kembali saluran air yang menyempit, baik melalui peran pengusaha maupun partisipasi warga.

Kepala Desa Cibeusi H. Jajang menekankan bahwa langkah utama yang harus dilakukan adalah menelusuri sumber persoalan banjir secara objektif.

“Kita harus benar-benar menelusuri, titik utama banjir ini dari mana saja. Bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk memperbaiki bersama,” kata Jajang.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Cipacing Hj. Dede Juariah dan Kepala Desa Sayang Dodi Kurnaedi. Keduanya sepakat melibatkan pemilik kos-kosan dan pelaku usaha agar turut bertanggung jawab dalam pembenahan drainase lingkungan.

“Minimal banjir tidak terjadi lagi. Itu target kita bersama,” ujar Dodi.

Dukungan juga datang dari kalangan pengembang. Direktur Kerta Negara, Arfan, menegaskan komitmen pelaku usaha di Jatinangor untuk tidak bersikap pasif terhadap isu banjir.

“Kami sebagai pengembang tidak hanya melihat soal perizinan, tapi melihat fakta di lapangan. Dengan isu banjir ini, kami siap melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab kami,” kata Arfan.

Ia menyebut keterlibatan pengusaha sebagai bagian dari kolaborasi pentahelix, di mana pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha bergerak bersama.

“Kalau tidak ada tindakan dan kolaborasi, masalah ini akan berlarut-larut. Kami hadir, gotong royong, siap mendukung selama itu positif untuk masyarakat,” ujarnya.**

Exit mobile version